sukarditb.com

10/VIDEO/ticker-posts

Header Ads Widget

Menulis puisi cinta ketika SMP



Alhamdulillah, saya merasa senang, coretan puisi saya terbit di Pontianak Post, pada Minggu 22 Maret 2015. Saya tidak menyangka, kebiasaan saya menulis puisi cinta semasa SMP, bisa dimuat ke media dan dibaca oleh khalayak dimana-mana. Luar biasa kekuatan menulis.


inilah coretan puisi -catatan rindu- :

Catatan rindu

Oleh: Sukardi (Adi TB)
1 Maret 2015

Ketika fajar mulai menampakkan wujudnya
Ayam berkokok ria, menyambut cahaya
Sedikit riuh, mereka suka menyapa
Menyampaikan catatan rindu sang pujangga
Bila rindu, satu kata tersampaikan cinta
Gulungan catatan rindu merona
Hay, Bidadari yang sedang mandi di kali
Maaf, ku telah menyembunyikan selendang hati
Jangan marah, jangan murka
Kan kirimkan selendang hatiku untuk mu
Terselip  catatan rindu


Kisahku mengenal dan suka puisi

Suka Puisi

Alkisah, awal saya menulis puisi, ialah sejak kelas VII SMP, di SMPN 1 Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara, tahun 2007. Ketika itu, saya mendapat tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, menulis puisi.

Saya bersemangat menulis dan membangkitkan imajinasi, merangkai kata-kata bermakna indah penuh makna.

Alhamdulillah puisiku mendapat nilai 7,5. Walau mendapat nilai segitu tidak menjadi masalah, yang penting saya merasa bahagia, karena saya bisa menciptakan karya  dalam bentuk  puisi yang perdana. Isinya menurutku ‘wah’, karena yang saya tulis berhubungan dengan cinta dan wanita.

Puisi pertama saya berjudul “BUNGA”. Mantap bukan? dari judulnya saja sudah menggambarkan makna kiasan seorang wanita. Saya memasukkan kata-kata indah penuh majas. Saya ingin orang yang membacanya, bisa langsung mengerti, apalagi ia wanita. Memang ketika kelas 7 SMP itu, saya sedang kasmaran dengan wanita yang berada sekelas bersamsaya. Dan di bawah ini puisinya:

Bunga
Oleh: Sukardi
Senin, 9 Agustus 2007

Embun pagi membasahi tubuhmu
Sinar matahari mennyinarimu
Kau mekar di pagi hari
Bertahta kumbang-kumbang menjadi sanubari

Terpukau saya menatap indahmu
Alangkah damainya rasa hatiku
Semangatku yang lemah, menjadi kuat
Tanpamu, diriku kesepian

Gunda di hatiku menjadi hilang
Kepedihan di hatiku terhapuskan
Warnamu meresapkan nilaimu
Indahmu terakait di hatiku

Aroamu menyejukkan hati
Merasuki sanubari
Ku coba mencari jejakmu
Hingga ku temui hidupmu

Mulai hari itu, dari satu puisi, menjadi banyak puisi yang saya ciptakan. Sebenarnya si bukan puisi, tapi puisi juga si, mirip gitu deh, ya bingung juga. Intinya  lebih ke penuangan unek-unek atau kata-kata yang ingin saya keluarkan dari hati. Setelah kata hati itu tersampaikan diatas kertas, hatiku menjadi lega. Yang membuat asyik dan sedikit sulit menciptakannya ialah “kata-kata indah”.

Menurutku, puisi ialah kata-kata indah, yang keluar dari hati,  menumbuhkan makna serta semangat.

Setelah naik kelas 8 SMP, lagi-lagi saya menggebu-gebu untuk menulis puisi. Karena saat itu, saya lagi kasmaran dengan adik kelas. Ia suka banget dengan puisi, dalam sebulan ada 3 sampai 5 puisi yang saya tulis dan ia baca, dan ada juga puisi khusus yang saya buat untuknya. So sweet… hehe :D

Sampai kelas 3 SMP, masih saja saya menulis puisi, tidak hanya teman satu sekolah yang tahu kalau saya suka menulis puisi, anak sekolah lainpun ada yang tahu, sampai-sampai mereka minta di buatkan puisi.

Momen itu membuat saya seakan-akan seperti penulis puisi yang sudah mahir, padahal belum sampai segitunya, hehe. Teman yang ingin menyatakan perasaannya, baik itu jatuh cinta, ingin minta maaf, pengucapan selamat, ingin melalui puisi dan meminta saya menuliskan untuk mereka.  Karena saya suka menulis puisi, ya saya menulis dengan ikhlas untuk mereka.

Di perpustakaan SMPN 1 Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara 2008, saya mengenal seorang penyair  yang terkenal dari pulau garam, yakni Madura, beliau bernama D. Zawawi Imron.

 Melalui puisi dan sajak yang ditulis pada buku berjudul “semerbak Mayang”. Beliau alumni pondok pesantren, banyak puisinya yang penuh dengan nilai dakwah, serta berisikan tulisan yang didalamnya terkandung budaya pulau Madura.    

D. Zawawi Imron pernah berkunjung ke STAIN Pontianak pada tahun 2012. Ingin sekali saya bertemu beliau, saya ingin berjabat tangan dan belajar puisi. Tidak jarang saya menceritakan ini kepada teman-temanku.

D. Zawawi Imron

alif, alif, alif
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku
alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang
hingga saya berkesiur
pada angin kecil akdir-mu
hompimpah hidupku, hompimpah matiku,
hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,
hompimpah!
kugali hatiku dengan linggis alifmu
hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai,
jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
mengerang menyebut alifmu
alif, alif, alif!

alifmu yang satu
tegak di mana-mana
1983

Setelah tamat SMP saya maih aktif menulis puisi, mengisi hari-hari liburku sebelum lanjut ke SMAN 1 Teluk batang. Kelas 10 SMA, saya menulis puisi lagi, salah satunya puisiku di tempel  di Majalah Dinding (Mading) sekolah.



Teriakan Suara Rakyat
Oleh: Sukardi (Adi TB)
Kamis, 28 April 2011.

Suara rakyat bergemuruh
Di penjuru bangsa ini
Seakan mereka tahu
Bangsa ini akan runtuh

Runtuh dari kemakmuran
Runtuh dari kenikmatan
Rakyat di lupakan
Rakyat di abaikan

Ooh… penguasa negara
Dengarkanlah teriakan rakyat
Yang berkumandang dahsyat

Apakah kau mendengarkannya?
Kapankah kau akan mendengarkan suara-suara mereka?
Hidup yang teraniaya, oleh sang penguasa Negara.

Sang Remaja
Oleh: Sukardi (Adi TB)
Kamis, 28 April 2014

Waktu telah membawa hidup
Mengisi ruang
Mengisi jiwa
Sang remaja

Ketika cinta mulai menjemput
Tersambut rasa suka tertantang
Lupa akan akhirat!
Hanya terasa merajai dunia

Mereka kejam
Mereka bringas
Mereka gila
Gila akan cinta
Mereka buta
Mereka bingung
Tidak tahu arti kenyataan

Oh Tuhan!
Berilah cahaya di hati “Sang Remaja”
Untuk menuju ruang yang nyata.

Saya belum pernah mengikuti kompetensi penulisan puisi, namun saya menghargai puisi dan sastra, walaupun tidak eksis di kompetensi, saya tetap menyukai puisi, bagiku sebuah perlombaan bukan sebagai akhir dari karya, namun lomba sebagai salah satu media untuk menyampaikan karya. Saya yakin suatu saat nanti, mereka yang membaca puisiku, akan mengenal saya, dan menghargai karya.

Sekarang, di bangku kuliah, saya juga melanjutkan menulis puisi, saya menemukan teman, ia  seorang wanita yang juga suka dengan puisi. Jadi, saya saling berbagi dan saling belajar didalam penulisan puisi.  Wanita itu memiliki nama Nur Ummi Mufidah, fsayaltas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam, di  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak angkatan 2013.

Penikmat  Senja
Oleh : Sukardi (Adi TB)
23 September 2013

Sudah angin ceritakan
Dingin menggapai tujuan
Sudah embun nyatakan
Indahnya lamunan kawan
Susunan vertikal tahta kemungkaran
Dihulu dihaluan
Mengayuh kedepan

Kisah yang tak manis
Gersang  kusam tragis
Semut-semut negara menangis

Sang Penikmat Senja
Tak pernah sadar, selalu melupa
Tak pernah yakin, selalu berdusta
Tak pernah nyata, selalu berubah
Penikmat Senja, penuh tipu daya

Setelah kuliah, saya buka kembali buku puisiku, setelah kubaca, sungguh terasa lucu dan ada kesan tersendiri di hatiku, kata-kata yang masih terlalu remaja dan kebanyakan berhubungan dengan perasaan terhadap seorang wanita.

Saya suka puisi, apalagi itu karya saya sendiri. Saya terus menulis puisi. Saya akan membuat buku, menyalin kumpulan puisiku dari tahun 2007 sampai sekarang. Semoga tercapai. Saya tidak ingin serakah dan menikmati sendiri, saya ingin sampaikan puisiku itu kepada anak cucuku, serta orang lain yang ingin membaca puisi karya saya. 



Post a Comment

0 Comments