sukarditb.com

10/VIDEO/ticker-posts

Header Ads Widget

Jejak Kehidupan - Catatan Harian Sukardi







Jejak Kehidupan. Cerita kehidupan, saya lalui bersama ruang dan waktu. Terekam manis, melalui goresan tinta hitam di atas putih. Tersusun ikhlas bersama hati nurani.

Jejak kehidupan yang mudah hilang dari memori otak, bisa kita ikat dengan tulisan. Jejak kehidupan terdokumentasikan melalui ukiran kata-kata yang muncul dari rasa. Segenggam kenangan, tersimpan dengan aman. Sejarah kehidupan tersampaikan melalui tulisan.

Kini, saya dan anda, berada dalam ruang dan waktu jejak kehidupan.
  

1. Suamiku Sepupuku

Tulisan ini menceritakan kehidupan keluarga saya. Mungkin, terjadi juga di kehidupan orang lain.

Mengangkat realita kehidupan orang tua saya, yang status pernikahannya ialah “Kawin sepupu”. Ketika itu, orang tua saya masih menikmati masa Siti Nurbaya, yang khas dengan tradisi perjodohan.

Nama ibu saya Siti Nurhasanah, akrab disapa Sanah, lahir pada 10 Maret 1975, di Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Ibu saya adalah seorang wanita dengan karakter solehah, ramah, lugu, asyik, komunikator, banyak kenalan dan sedikit manja, maklum dia anak bungsu dari delapan bersaudara.

Ibu saya pernah bercerita, ketika dia masih anak-anak, dia sangat manja kepada kakek, apapun yang dia minta, selalu kakek turuti. Ketika kakek melarang ibu ikut berjualan buah, ibu tetap nekat untuk ikut, dengan bersembunyi di dalam bak motor air, milik kakek.

 Setelah sampai di pasar, barulah ibu keluar dari bak motor air tersebut. Melihat ibu yang muncul dengan tiba-tiba, seperti atraksi pesulap profesional, kakek hanya bisa tersenyum. Awalnya kakek jengkel dengan tingkah ibu, namun ibu tetap membawa wajah polos bin melas di hadapan kakek, ya gokil deh.

Kakek menjual buah-buahan ke Pasar Sungai Jawi (Gertak 3 atau Pasar Dahlia). Dulu, transportasi melalui jalur air masih bisa, namun telah berubah akses, motor air  tidak bisa masuk, sekarang hanya bisa melalui jalur darat.

Ketika remaja usia 14 tahun, ibu saya dilamar oleh ustadnya dari kota Malang, Jawa Timur. Ibu saya menolak lamaran ustad tersebut, dengan alasan takut durhaka kepada gurunya, takut salah dalam berkata, tidak ada rasa suka  dan masih belum jodoh.

Banyak pria yang ingin meminang ibu, sebagai gadis bungsu dari  Haji Abdul Gani dan ibu Napari. Namun ibu belum mememukan pendamping hidup yang klop dan sesuai dihatinya ketika itu. Ibu masih menikmati ceria kehidupan bersama kawan-kawan kelompok kasidah dan kawan-kawan pengembangan potensi remaja di desanya.

Ibu punya bibi (nenek saya) di Desa Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara, ibu ingin berlibur sekaligus silaturahmi ke tempat nenek serta keluarga lainnya. Nenek  pergi ke Tanjung Saleh untuk menjemput ibu. Dengan semangat dan tidak ada rasa ingin menolak. Ibu langsung berangkat ke Teluk Batang, ikut nenek. Maklum, baru pertama kalinya ke Teluk Batang. Ibu merasa bingung dan tidak ada kenalan. Nenek punya anak pria (ayah saya), berarti sepupu ibu.

Ayah saya sifatnya ramah dan humoris , dia langsung menyambut dengan ramah kedatangan sang sepupu yang memiliki rupa manis dan cantik.

Akhirnya ibu punya teman berkomunikasi di awal kedatangannya di Teluk Batang, walau dengan rasa yang sedikit canggung. Menjadi pertemuan pertama dengan sang sepupu, banyak bertanya hal-hal kehidupan mereka. Saling berbagi cerita ketika masih anak-anak,  yang terasa lucu disertai tawa kecil.

Ayah saya bernama Suhardi, akrab disapa Suhar, lahir pada 25 Juni 1970, di Desa Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara. Ayah saya anak sulung dengan karakter rajin, ulet, tegas dan humoris. Bekerja dengan sungguh-sungguh dan diselesaikan dengan penuh tanggung jawab. 

Setelah beberapa hari di Teluk Batang, mereka semakin akrab. Ada waktu santai, mereka jalan-jalan ke tempat keluarga. Pernah ayah mengajak ibu nonton film layar lebar yang ketika itu masih ada bioskop di Teluk  Batang, sekarang sudah tutup, karena telah banyak masyarakat yang punya televisi di rumahnya.

Sekitar satu bulan di Teluk Batang, ibu pulang ke Tanjung Saleh dan melanjutkan aktivitasnya. Dengan hati senang setelah bersilaturahmi ke tempat keluarga di desa Teluk Batang yang sangat jauh dari desa Tanjung Saleh. Jika pergi harus menggunakan transportasi laut dan ditempuh sekitar enam 16 jam.

Pada waktu itu, di desa ibu aturannya sangat ketat. Pernah ibu dan kawan-kawannya dikejar dan dimarah oleh pamannya. Padahal ibu bukan pacaran dan tidak secara sengaja berjalan berduaan dengan pria. Mereka bersama pria itu hanya kebetulan satu arah untuk pulang kerumahnya. Ibu lari sekuat-kuatnya, hingga dia mampir di salah satu rumah warga dan sembunyi di dalam tempayan.

Setelah keadaan aman, barulah ibu keluar dari tempat persembunyian dan aman dari kejaran paman yang telah salah sangka. Itulah zaman Siti Nurbaya yang saya katakan, berjalan dengan pria yang di anggap asing, tidak boleh! Sekarang? Jangankan pria asing, berjalan dengan makhluk asing itu sudah biasa!

Liburan di tempat sepupu yang mengasyikkan, ada kenangan yang tak akan terlupakan hingga ibu pulang ke kampung halaman.

Di kampung, ibu berbagi cerita kepada kawan-kawannya tentang keluarga yang ada di Teluk Batang. Setelah beberapa bulan, bapak pergi ke Tanjung Saleh bersama nenek dengan tujuan melamar ibu. Ibu tidak tahu kalau hari itu akan ada acara meminang dari pihak pria , ibu ketika itu sedang main-main keluar .

Ketika pulang kerumah, kok ramai orang, ada apa? tanya ibu dalam hati. Setelah masuk kerumah, ada seorang tukang rias pengantin yang juga sepupu ibu sendiri, kemudian langsung membawa ibu kekamar untuk dihias.

Ibu bertanya kepada tukang hias, “ada acara apa?” Tukang hias pengantin itu menjawab, malam itu adalah  prosesi pernikahan ibu bersama ayah. Dengan rasa kaget dan heran ingin mengetahui siapa pria itu, ternyata itu sang sepupu yang berparas tampan dan berjiwa pemimpin.

Dalam hati yang bingung, ibu berkata ya Allah, jika dia jodohku jadikanlah dia imam di dalam hidupku dan saya yakin atas semua janji dan jalanmu yang benar.

Mulai saat itu, resmilah status ibu sebagai istri ayah yang sah, melalui jalan pernikahan dan perjodohan orang tua. Pernikahan antar sepupu pun terjadi dengan halal, suamiku sepupuku semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amiin.. J


2. Tentang Saya

Biasanya, tentang penulis ini letaknya di bagian belakang buku. Tapi kali ini berbeda, karena saya yang menulis buku ini, jadi ‘tentang saya’  ditulis di bagian depan saja, hehe.

Nama saya Sukardi, akrab dipanggil Adi. Lahir dengan selamat dan normal, di Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Pada hari Senin Manis, tanggal 5 Oktober 1994, sekitar pukul 19.00 WIB, bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban, dibantu dukun beranak yang bernama Bedhi binti Bedhun.

Di  akta kelahiran dan kartu keluarga, keterangan tentang tempat lahir,  saya lahir di desa Sukamaju Kecamatan Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara. Entah kenapa bisa berbeda dengan nama desa yang di atas. Mungkin karena saya berdomisili di Teluk Batang. Kayong Utara merupakan kabupaten baru yang terbentuk pada tahun 2007, pemekaran dari kabupaten Ketapang.

Kata ibu, waktu lahir bentuk tubuh saya kecil, seukuran botol kecap. Kalau  pagi hari, saya dijemur menghadap cahaya surya yang baru terbit. Saya diangkat (diasapi) oleh nenek di tungku, ingat, di tungkunya bukan di atas api. Karena saya bukan Avatar sang pengendali api. Saya juga tidak akan dijadikan salai. Nenek melakukan hal tersebut, katanya untuk membuat tubuh saya menjadi hangat dan menguatkan kulit tubuh, yang ketika itu tubuh saya sangat rawan dan mudah iritasi.

Ketika masih bayi, kulit tubuh saya bewarna putih dan memiliki mimik wajah mirip cewek. Orang-orang yang baru kenal, belum yakin kalau saya cowok. 

Suatu hari saya dibawa ibu ke undangan. Pada Saat itu banyak orang yang bertanya jenis kelamin saya, ada yang berkata kepada ibu, mengapa tidak diberi anting ditelinganya. Ibu langsung memberi tahu kepada orang itu, saya ini anak cowok. Mereka masih belum percaya, bahkan “Anu saya” ditunjukkin kepada orang itu. Barulah orang itu percaya, hehe parah deh pokoknya. Bulu mata saya melentik, banyak yang suka. Ciee..

Karena lucu, saya diberi julukan Unyil oleh Saweli, warga Jalan Sukamaju. Kalau paman saya yang bernama Suryatno, memberi julukan kepada saya dengan sebutan Pak Aji Lopok. Saya tanyain artinya sama ibu, tapi ibu tidak tahu. Ya sudah, tidak apa-apa, yang penting paman suka dan senang. J

Ketika kecil nama saya Abdul Amin, karena sering sakit, dirubah menjadi Sukardi oleh dukun beranak Jalan Sukamaju kecamatan Teluk Batang, bernama Wak Bana, beliau etnis Bugis.

Penyakit yang sering saya derita ketika kecil itu yaitu sakit perut. Ibu menggendong dan mengantarkan saya ke puskesmas, dengan berjalan kaki. Karena waktu itu, orang tua saya tidak punya kendaraan. Namun, semangat orang tua saya tidak pudar dan tetap kuat untuk membesarkan anak-anaknya.

Ayah saya bernama Suhardi hanya beda satu huruf dengan nama saya. Ayah putra asli Teluk Batang, punya adik perempuan, bernama Norma (Alm). Ayahnya bernama Norhawi dan ibunya bernama Kona binti Senen.

Ibu saya bernama Siti Nurhasanah. Ibu putri asli Tanjung Saleh, anak bungsu dari delapan bersaudara. ini nama saudara ibu saya : Muhammad Ali, Khodijah, Bisin, Subiah, Mislana, Maimuna, dan Fatimah. Orang tuanya bernama H. Abdul Gani bin Pudin dan Napari Binti Senen.

Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Abang bernama Muhammad Suripin. Adik bernama Fitri Suhana. Umur saya beda tiga tahun dengan abang, sedangkan saya dengan adik berjarak sebelas tahun. Kami bersaudara baik, walau kadang-kadang ada perbuatan kami yang saling membuat jengkel dan marah. Kami tetap saling memaafkan. Terkadang kami bermain bersama di waktu luang.

Pekerjaan ayah ialah berkebun karet. Hari masih subuh ayah telah bangun untuk pergi menyadap (noreh)  karet di kebun. Menoreh ketika cuaca panas, kalau cuaca hujan tidak bisa noreh. Ayah juga membuka lahan untuk berladang padi. Penghasilan pertahun berbeda-beda. Terkadang banyak dan terkadang sedikit. Rute menuju ladang tidaklah bagus. Jalannya berliku-liku dan banyak lubang. Ketika hujan, kondisi badan jalan sangat becek.  Jika berjalan kaki memerlukan waktu tiga jam untuk sampai ladang, kalau menggunakan sepeda membutuhkan waktu satu jam setengah.  Sungguh besar perjuangan ayah untuk menafkahi kehidupan kami.

Ayah saya sosok seorang yang ulet dan tegas. Beliau suka memberi dukungan. Contohnya, ketika saya akan mengikuti lomba mengaji, olimpiade dan lomba yang lainnya. Ayah selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan saya ke tempat lomba, dan rela meninggalkan pekerjaannya. Sungguh saya kagum kepada ayah yang selalu membimbing saya.

Ayah telah memberikan contoh seorang pemimpin yang baik di dalam rumah tangga. Ayah pernah berkata, kalau tidak ingin mati muda maka jagalah tingkahlaku. Maksudnya, jangan kita mengacau atau nembuat kerusakan, dengan cara menjaga sikap dan tingkahlaku. Saya segan dengan ayah, untuk berbicara langsung saja masih gugup.

Ketika makan bersama, saya begitu pelan-pelan dalam mengunyah. Kalau kedengaran kuat, sampai ceplas-ceplos, cara makan saya dikatakan mirip bebek yang lagi nyosor. Jadi, dari kecil saya telah diajari etika oleh ayah dan ibu. Dan itu semua saya rasakan manfaatnya sampai sekarang.

Yang paling sering ngomel itu ibu, sebenarnya nasihat, bukan marah. Perkataan ibu itu adalah pesan dan cara mendidik saya. Saya paling dekat dengan ibu,  kalau terjadi apa-apa, saya suka cerita sama ibu.  Saya suka tidur sama ibu. Bisa tidur sendirian setelah  kelas dua SMP, berhenti menyusu kelas tiga SD, maklum ketularan manjanya ibu, hehe.

Saya manja banget sama ibu. Sekarang, setelah merantau ke kota, untuk kuliah dan jauh dari ibu, terasa sedih sekali di hati. Karena ini kali pertamanya saya jauh dari orang tua. Namun saya harus tetap semangat, saya harus membuat kedua orang tua bahagia dan bangga. Saya yakin bisa menggapai semua tujuan. Semua hal yang saya kerjakan, semata-mata ingin mengharap ridho Allah SWT.

  
3. Pendidikan

Saya masuk sekolah dasar pada tahun 2000. Di Sekolah Dasar Negeri  03 Teluk Batang. Terletak di Desa Karya Maju. Kepala sekolahnya bernama Sutarto S.Pd . Hari pertama daftar sekolah, rasanya takut banget. Saya masih mencoba menyesuaikan terhadap lingkungan baru.

Hari pertama berangkat ke sekolah, saya bersembunyi di bawah kolong rumah. Saya tidak rela sekolah. Tapi, akhirnya, setelah  saya berfilsafat (versi anak SD) saya pun mau pergi ke sekolah. Ditambah lagi ayah dan ibu saya yang tak henti-hentinya menyemangati.

Langsung belajar, dari kantor saya menuju ruang kelas satu. Saya yang telah siap dengan tas yang berisi perlengkapan belajar. Setelah memperkenalkan diri,  pelajaran pertama, pelajaran Bahasa Indonesia, tentang menulis huruf abjad. Pelan-pelan saya menulis beberapa huruf, walau jelek, tapi bisa. 

Di samping saya, duduk seorang teman baru, namanya Gono Nugroho, disapa Gono. Si Gono ini bingung untuk menulis, ukuran tulisannya besar-besar. Salah satunya menulis huruf “A” sebesar tiga garis buku. Karena malu dan grogi, Gono akhirnya pura-pura sakit perut dan izin pulang. Ah, dasar Gono!, teman-teman yang lain pun menyusul pulang, dengan teknik masing-masing.

Masa sekolah dasar yang sangat indah. Menjadi awal saya mengenal banyak teman dan mengetahui dunia belajar.

Sebelum mendaftar dan menjadi siswa, saya memang sudah sering ke SD 03, ikut abang ke sekolah. Sekaligus abang jagain saya, ketika ayah dan ibu ke kebun maupun ke sawah.

Abang lumayan galak, namun tetap sayang dan penuh perhatian. Walaupun dari segi akademik dia kurang pandai, namun abang tetap rajin sekolah. Tamat SD, ibu dan bapak  menyuruh lanjut ke SMP, namun abang sendiri yang tidak mau, dan memilih untuk bekerja.

Dari segi prestasi, alhamdulillah saya menjadi juara kelas, peringkat pertama dari kelas satu sampai kelas enam. Tapi tidak dapat hadiah apa-apa. Ya tidak apa-apa, yang penting hati senang, dengan usaha dan semangat belajar, hingga meraih hasil yang gemilang.


4. Pidato Si Unyil

Guru-guru SD baik semua sama saya dan kepada kawan-kawan. Guru Pendidikan Agama Islam namanya Fahria S.Pd, guru Matematika namanya Bujang Eflar S.Pd, guru Bahasa Indonesia namanya Mahud S.Pd SD, Guru IPA namanya Suryanto S.Pd.

Pak Bujang lumayan galak dalam mengajar, tapi asyik juga dan bisa ngelucu. Pak Suryanto bisa memberi motivasi, Bu Fahria tegas dengan didikan agamanya, dan Pak Mahud telah berhasil membimbing saya, untuk bisa berani dan percaya diri, berbicara di khalayak ramai atau muka umum. Guru bahasa Indonesia saya ini sangat mendukung dan menggenjot saya untuk bisa berpidato.

Dari kelas empat SD saya telah mendapat amanah untuk menyampaikan pesan dan kesan perwakilan adik kelas dalam acara perpisahan siswa-siswi kelas enam. Sungguh terasa dag-dig-dug di hati, karena menjadi kali pertama saya berpidato.

Saya terus belajar dan latihan di rumah Pak Mahud, dan yakin bisa. Pas pada hari “H” nya, saya masih saja terasa gemetaran. Saya masih menggunakan mitos lama dan memang bisa jadi iya. “ Air penawar”, ya air itu yang ada dipikiran ibu dan saya.

Ibu bergegas ke rumah dukun kampung dengan membawa air kedalam botol berukuran sedang. Saya langsung meminumnya ketika akan turun dari rumah.  Dengan membaca bismillah saya berangkat ke sekolah. Masalah air penawar tadi itu, ya percaya tidak percaya, harus percaya (ini pemaksaan, haha). Ya mau bagaimana juga, manfaatnya minumkan ada, yakni untuk melancarkan metabolisme dan pencernaan. Untuk masalah menghilangkan grogi, saya rasa itu hanya sugesti yang masuk kedalam pikiran kita. Dan sugesti itu berhasil.

Ilmu yang dapat saya ambil ketika akan berpidato yaitu masalah kesiapan dan pengaturan pola pikir. Dalam pikiran harus positif dan yakin bisa, jangan berfikiran akan salah, itulah yang akan menggangu pikiran dan konsentrasi. Penguasaan panggung dan suasana juga perlu. Jangankan yang perdana berpidato, yang sudah biasa saja masih ada yang namanya grogi. Jadi, menurut saya grogi itu bukan masalah, namun grogi itu sesuatu yang akan hadir ketika kita menghadapi atau menemukan momen tertentu dan katakan itu luar biasa.

Dari pidato pertama saya itu, saya langsung berani berbicara di muka umum. Malahan saya menjadi ketagihan untuk mengeluarkan atau mengungkapkan kata-kata yang ada di dalam hati. Kemudian kita bisa di kenal orang banyak, pokoknya asyik banget deh buat saya pribadi.

Saya ini sedikit cadel alias tidak bisa menyebutkan dengan baik salah satu huruf abjad. Huruf “R” yang lumayan sulit untuk saya ucapkan dengan benal, tu kan. Akan tetapi, alhamdulillah saya terpilih untuk menjadi penyampai kata pesan dan kesan pada perpisahan SD Tahun 2005 sampai 2007, SMP Tahun 2008 sampai 2010, SMA 2011-2012. Sungguh saya memaparkan itu sebagai hal yang aneh. Mungkin mereka sudah terlanjur suka, atau mungkin terlanjur salah memilih saya. Hehe (bisa jadi).

Banyak hikmah yang saya dapatkan, saya bisa berbicara dan tidak terlalu grogi ketika menjadi MC, moderator, ketua panitia dan sambutan yang lainnya.          

Jadi, pelajaran yang harus diterapkan, mulailah belajar dari yang dasar alias nol untuk bisa mencapai puncak, dan harus ada usaha, kemudian untuk membuat ilmu pengetahuan kita bisa bermanfaat dan mendapat ridho, jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, karena pengetahuan bersumber dari Sang Kholiq lagi Maha Mengetahui.


5. Mengaji

Saya mulai ingin masuk mengaji pada tahun 2003, melihat kawan-kawan ramai masuk ngaji, jadi pengen deh. Pertama kali saya masuk ngaji di rumah pak Ustad Solihuddin. Ketika itu ibu yang mengantarkan  saya masuk ngaji.

Hari pertama dan kedua masih semangat masuk ngaji, walau sedikit malu-malu ketemu pak ustad dan teman-teman baru. Tapi malam ketiga menjadi malam terakhir, karena ada kejadian yang membuat saya trauma dan takut untuk masuk mengaji lagi.

Waktu itu, ada senior yang salah, dan dimarah oleh ustad, memang tidak ada hubungannya dengan saya, berhubung saya anak baru, jadi saya merasa takut dengan bentakan yang saya dengar. Dalam bahasa gaulnya “saya syudah lelah dengan semua ini!” haha.

Dari hari itu saya tidak mengaji lagi, hanya suka jalan-jalan, pergi menonton ke rumah tetangga. Ibu sungguh marah dengan  tingkah laku itu, di suruh ngaji tapi saya malas dan bangkang terhadap perintahnya.

Pada suatu malam, ketika saya asyik menonton saya di marah dan suruh pulang. Di jalan, ibu memukul saya menggunakan batang singkong, sampai patah menjadi tiga bagian, betisku menjadi memar, bengkak dan lumayan sakit.

Sesampainya di rumah, saya di suruh mandi. Enak kalau di kamar mandi, tapi ini saya diceburkan dan direndam kedalam parit di depan rumah. Setelah mandi paksa, hehehe saya langsung di suruh makan. Yang namanya ibu, walaupun marah tetap saja beliau perhatian dan menyiapkan makanan untukku. I love you Mbuk.

Besok malamnya saya didaftarkan ngaji ke rumah Ustad Rasem. Saya langsung merasa nyaman dan semangat mengaji dengan Ustad Rasem. Akhirnya saya bisa mengaji, dan suka tampil ketika lomba tartil, awalnya tingkat desa akhirnya sampai di kabupaten.

Setelah pandai dan lumayan lancer mengaji, saya dan kawan-kawan, melaksanakan tadarusan pada bulan Ramadhan di masjid dan mushola. Teman akrab ketika mengaji, namanya Abdurrohim di panggil Dul. Saya suka boncengan dengan Dul menggunakan sepeda, sampai kelas 5 SD baru bisa mengendarai sepeda sendiri.

Saya memberanikan diri untuk membawa sepeda sendiri, bukan sepeda kecil tapi sepeda besar. Awal bisa mengendarai sepeda sendiri, terasa sangat bangga. Saya main sepeda terus seperti tidak ada jenuhnya. Maklum baru pandai bersepeda.

Kelas 5 SD saya memotong burungku, alias khitanan. Saya tidak memotongnya sendiri, saya dibantu Pak Arif, dokter di kampung saya. Sejak saat itu, saya mulai mengerti untuk menjadi lelaki yang lebih perkasa versi saya. Tanpa rokok, narkoba dan miras tentunya.


6. Ketika Sekolah

Tahun 2007 saya lanjut ke SMPN 1 Teluk Batang. Ketika  SMP saya sudah mulai mengikuti kegiatan yang diadakan sekolah, seperti Pramuka, UKS dan OSIS. Saya mengikuti olimpiade pertama tingkat kabupaten, Olimpiade Sains Nasional tahun 2008 bidang studi Fisika. Namun saya belum bisa lolos ke tingkat provinsi. Saya lulus SMP pada tahun 2010 .

Tahun 2010 saya lanjut ke SMAN 1 Teluk Batang. Masa-masa yang sangat seru dan indah, saya katakan masa SMA itu sebagai masa putih abu-abu, ya sesuai dengan seragam yang saya pakai. Aktif di OSIS, Pramuka, Club Drama selama tiga tahun. Menjadi Paskibra kecamatan, Tahun 2010, pasukan 45.2. Kemudian Tahun 2011 menjadi pasukan 8, sungguh senang hatiku menjadi Paskibra.

Kemudian dua kali menjadi perwakilan Kabupaten Kayong Utara, setelah lolos seleksi olimpiade sains tingkat kabupaten dan diutus ke tingkat provinsi pada Tahun 2011 dan 2012, bidang studi Ilmu Kebumian. Menginap di Hotel Kapuas Dharma. Sungguh bahagia bisa merasakan hidup enak di hotel selama tiga hari. Ketika di hotel saya teringat kepada orang tua saya di kampung, dan merasa terharu karena saya bisa merasakan hotel sedangkan mereka belum. Itu semua saya rasakan berkat dukungan semangat dan doa kedua orang tua. Ayah saya senantiasa mengantarkan saya ke kabupaten untuk mengikuti olimpiade. Tahun 2013 saya lulus SMA.

Tahun 2013 saya lanjut ke jenjang pendidikan perguruan tinggi. Saya kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, Jurusan Dakwah, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Pada tanggal 4 April 2014, resmi beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Kemudian sistem akademik, menjadi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam(KPI), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD).

Saya bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta, Club Menulis, Perkusi Kontemporer Genta Swara Khatulistiwa (GSK), Lab. IAIN TV, dan Lab. Radio Prokom FM 107,9 MHz.


7. Kasidah

Saya suka sekali bermain seni islami yakni kasidah. Saya mengenal kasidah sejak tahun 2004. Ketika itu ada seorang istri pak ustad di desa saya yang membentuk dan merekrut saya sebagai anggota baru.

Awal saya menabuh gendang, sungguh tidak bagus bunyinya. Saya tidak putus asa dan terus berusaha, dengan berlatih sungguh-sungguh. Akhirnya pelan-pelan dan penuh keyakinan saya bisa bermain kasidah. Saya pernah memainkan Kentongan, Tamborin, Ketipung, Bass, Gendang Gapet,  Zimbe, dan hampir semua alat kasidah. Sungguh asyik sekali ketika bermain kasidah, selalu saya sempatkan diri untuk berlatih.

Pernah ketika itu akan ada penampilan di acara lomba Muharram. Saya sedang sakit, karena satu hari sebelumnya saya over dosis obat sakit maag. Itu karena kebiasaan saya, kalau sudah menjadi kesukaan dan penuh tanggung jawab harus saya laksanakan dan terpenuhi. Tahun 2004 sampai tahun 2006, grup kasidah saya bernama En-Noufa, maknanya berhubungan dengan nama masjid Nurul Ma’rifah yang ada di desa saya.

Tahun 2007 sampai tahun 2012 bernama An-Najwa. Tahun  2013 sampai sekarang bernama Diva Shamila, nama itu diberikan karena keinginan pelatih kasidah kami yang berharap punya anak perempuan. Anak guru kasidah kami sekarang dua cowok semua. Saya fakum dari kasidah setelah merantau ke kota untuk melanjutkan studi ke bangku kuliah. Namun, saya mempunyai keinginan besar, suatu saat nanti, saya ingin membentuk grub kasidah, semoga tercapai.

Kami latihan satu minggu dua kali. Guru kami sangat tegas dan ulet dalam membimbing kami. Nama beliau Siti Nurbaiti istri dari Ustad Abdurrauf Arrahbini. Menantu dari KH. Khairuman Arrahbini, Pendiri sekaligus Pengasuh pondok pesantren Darul Ulum, Kabupaten Kubu Raya.

Pertama latihan di rumah pak ustad, anggotanya ramai. Biasa kalau lagi berkumpul, di teras ada anak-anak penari Saman. Ruang tamu  ada penabuh gendang, dan pada ruang tengah, di isi oleh para vokalis dan backing vokal.

Penampilan pertama grup kasidah kami sangat di sambut meriah dan antusias oleh masyarakat, selain kasidah lengkap kami juga menambahkan alat gendang Jaipong, yang menambah kemenarikan suara dan menjadi ciri khas dengan adanya penambahan alat-alat tradisional.

Pada tahun 2007, kami membuat rekaman video dokumentasi kasidah. Menjadi tontonan dan bahan koreksi. Ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kami terus berkarya dan berjuang didalam dunia seni islami. Banyak hambatan dan kendala yang sering kami hadapi. Namun kami pantang menyerah, terus semangat.

Terasa indah ketika penampilan kami disaksikan oleh orang banyak, dan membuat hati mereka suka dengan penampilan kami. Dari kasidah ini, saya mengenal kebersamaan dan kekompakan yang sangat bermakna dalam kehidupan.


8. Suka Puisi

Alkisah, saya menulis puisi sejak kelas 7 SMP, di SMPN 1 Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara. Ketika itu, saya mendapat tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, menulis puisi.

Saya bersemangat menulis dan membangkitkan imajinasi, merangkai kata-kata indah penuh makna.

Alhamdulillah puisiku mendapat nilai 7,5. Walau mendapat nilai segitu tidak menjadi masalah, yang penting saya merasa bahagia, karena saya bisa menciptakan karya  dalam bentuk  puisi yang perdana. Isinya menurutku ‘wah’, karena yang saya tulis berhubungan dengan cinta dan wanita. Cie.

Puisi pertama saya berjudul “Bunga”. Mantap bukan? dari judulnya saja sudah menggambarkan makna kiasan seorang wanita. Saya memasukkan kata-kata indah penuh majas. Saya ingin orang yang membacanya, bisa langsung mengerti, apalagi ia wanita. Memang ketika kelas 7 SMP itu, saya sedang kasmaran dengan wanita yang berada sekelas bersama saya.

Bunga

Oleh: Sukardi

Senin, 9 Agustus 2007



Embun pagi membasahi tubuhmu

Sinar matahari menyinarimu

Kau mekar di pagi hari

Bertahta kumbang-kumbang menjadi sanubari



Terpukau aku menatap indahmu

Alangkah damainya rasa hatiku

Semangatku yang lemah, menjadi kuat

Tanpamu, diriku kesepian



Gunda di hatiku menjadi hilang

Kepedihan di hatiku terhapuskan

Warnamu meresapkan nilaimu

Indahmu terkait di hatiku



Aromamu menyejukkan hati

Merasuki sanubari

Kucoba mencari jejakmu

Hingga kutemui hidupmu



Mulai hari itu, dari satu puisi, menjadi banyak puisi yang saya ciptakan. Sebenarnya si bukan puisi, tapi puisi juga si, mirip gitu deh, ya bingung juga. Intinya  lebih ke penuangan unek-unek atau kata-kata yang ingin saya keluarkan dari hati. Setelah kata hati itu tersampaikan diatas kertas, hatiku menjadi lega. Yang membuat asyik dan sedikit sulit menciptakannya ialah ‘kata-kata indah’.

Menurut saya, puisi ialah kata-kata indah, yang keluar dari hati,  menumbuhkan makna serta semangat.

Setelah naik kelas 8 SMP, lagi-lagi saya menggebu-gebu untuk menulis puisi. Karena saat itu, saya lagi kasmaran dengan adik kelas. Ia sangat menyukai puisi, dalam sebulan ada 3 sampai 5 puisi yang saya tulis dan ia baca, dan ada juga puisi khusus yang saya buat untuknya. So sweet… hehe :D

Sampai kelas 3 SMP, masih saja saya menulis puisi, tidak hanya teman satu sekolah yang tahu kalau saya suka menulis puisi, anak sekolah lainpun ada yang tahu, sampai-sampai mereka minta di buatkan puisi.

Momen itu membuat saya seakan-akan seperti penulis puisi yang sudah mahir, padahal belum apa-apa menurut saya. Teman yang ingin menyatakan perasaannya, baik itu jatuh cinta, ingin minta maaf, pengucapan selamat, melalui puisi sering meminta saya menuliskan untuk mereka.  Karena saya suka menulis puisi, ya saya menulis dengan ikhlas untuk mereka. Tarifnya belakangan, hehe bercanda.

Di perpustakaan SMPN 1 Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara 2008, saya mengenal seorang penyair  yang terkenal dari pulau garam, beliau bernama D. Zawawi Imron.

Melalui puisi dan sajak yang ditulis pada buku berjudul Semerbak Mayang. Beliau alumni pondok pesantren, banyak puisinya yang penuh dengan nilai dakwah, serta berisikan tulisan yang didalamnya terkandung budaya pulau Madura.   

D. Zawawi Imron pernah berkunjung ke STAIN Pontianak pada tahun 2012. Ingin sekali saya bertemu beliau, saya ingin berjabat tangan dan belajar puisi. Tidak jarang saya menceritakan ini kepada teman-teman saya.





ZIKIR

D. Zawawi Imron



alif, alif, alif
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku
alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang
hingga saya berkesiur
pada angin kecil akdir-mu
hompimpah hidupku, hompimpah matiku,
hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,
hompimpah!
kugali hatiku dengan linggis alifmu
hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai,
jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
mengerang menyebut alifmu
alif, alif, alif!
alifmu yang satu
tegak di mana-mana
1983





Setelah tamat SMP saya maih aktif menulis puisi, mengisi hari-hari libur saya sebelum lanjut ke SMAN 1 Teluk batang. Kelas 10 SMA, saya menulis puisi lagi, salah satunya puisiku di tempel  di Majalah Dinding (Mading) sekolah.



Teriakan Suara Rakyat

Oleh: Sukardi

Kamis, 28 April 2011.



Suara rakyat bergemuruh

Di penjuru bangsa ini

Seakan mereka tahu

Bangsa ini akan runtuh



Runtuh dari kemakmuran

Runtuh dari kenikmatan

Rakyat dilupakan

Rakyat diabaikan



Ooh… penguasa negara

Dengarkanlah teriakan rakyat

Yang berkumandang dahsyat



Apakah kau mendengarkannya?

Kapankah kau akan mendengarkan suara-suara   mereka?

Hidup yang teraniaya, oleh sang penguasa Negara.





Sang Remaja

Oleh: Sukardi

Kamis, 28 April 2014



Waktu telah membawa hidup

Mengisi ruang

Mengisi jiwa

Sang remaja



Ketika cinta mulai menjemput

Tersambut rasa suka tertantang

Lupa akan akhirat!

Hanya terasa merajai dunia



Mereka kejam

Mereka bringas

Mereka gila

Gila akan cinta

Mereka buta

Mereka bingung

Tidak tahu arti kenyataan



Oh Tuhan!

Berilah cahaya di hati “Sang Remaja”

Untuk menuju ruang yang nyata.



Saya belum pernah mengikuti kompetensi penulisan puisi, namun saya menghargai puisi dan sastra, walaupun tidak eksis di kompetensi, saya tetap menyukai puisi, bagiku sebuah perlombaan bukan sebagai akhir dari karya, namun lomba sebagai salah satu media untuk menyampaikan karya. Saya yakin suatu saat nanti, mereka yang membaca puisi saya, akan mengenal saya, dan menghargai karya.

Sekarang, di bangku kuliah, saya juga melanjutkan menulis puisi, saya menemukan teman, ia seorang wanita yang juga suka dengan puisi. Jadi, saya saling berbagi dan saling belajar di dalam penulisan puisi.  Wanita itu memiliki nama Nur Ummi Mufidah, fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam, di  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak angkatan 2013.



Saat-saat Itu

Oleh: Nur Ummi Mufidah



Saat bayangan mulai terlihat semu

Mata pun enggan membuka

Dunia seakan menjadi gelap

Dan hati telah mati



Saat hati telah mati

Jantung pun jenuh untuk berdetak

Pembuluh darah mulai menyempit

Dan raga telah beku



Saat raga telah beku

Uang pun menjadi tak berguna

Tinggalah amal menjadi kawan

Dan bumi mulai memanggil



Saat bumi mulai memanggil

Raga pun terbenam dalam tanah

Tapak kaki semakin menjauh

Dan malaikat mulai datang



Saat malaikat mulai datang

Entah apa yang akan terjadi

Mungkinkah kita akan disambut dengan penuh cinta ?

Atau bahkan hanya cambuknya yang berbicara ?

Akan jadi apa kita nanti ?Busuk kah ? Terang kah ? Sepi kah ?

Hanya Allah yang tau.



Puisi “Penikmat Senja” ini, saya tulis pada awal semester 1. Mengandung makna, orang-orang yang tidak memperdulikan rakyat kecil.



Penikmat  Senja

Oleh : Sukardi

23 September 2013



Sudah angin ceritakan

Dingin menggapai tujuan

Sudah embun nyatakan

Indahnya lamunan kawan

Susunan vertikal tahta kemungkaran

Dihulu dihaluan

Mengayuh kedepan



Kisah yang tak manis

Gersang  kusam tragis

Semut-semut negara menangis



Sang Penikmat Senja

Tak pernah sadar, selalu melupa

Tak pernah yakin, selalu berdusta

Tak pernah nyata, selalu berubah

Penikmat Senja, penuh tipu daya



Di sela-sela waktu, setelah mencuci pakaian, saya merenung, melihat celana hitam basah, yang saya gantung di belakang jendela. Kemudian saya mengukir kata-kata indah untuknya.



Celana Hitamku

Oleh : sukardi

05-Oktober-2013



Aku hanya punya satu

ku pakai satu minggu

senang menemani namun bau

dia itu celana hitamku



masih bersama ku hingga sabtu

sempat tercuci hari minggu

ku gantung di halaman kost ku

ku tatap basah terasa sahdu



celana hitamku

maafkanlah tingkah laku ku

membuatmu lelah dibadanku

namun aku sayang padamu

karena kau tetap setia padaku





Di perantauan, saya buka kembali buku puisi saya yang tampak kumal. Setelah saya membacanya kembali, sungguh terasa lucu dan ada kesan tersendiri di hati saya. Kata-kata yang masih terlalu remaja dan kebanyakan berhubungan dengan perasaan terhadap seorang wanita.

saya menulis puisi untuk ibu, yang sangat saya rindukan, ketika saya berada perantauan.

Kangen Ibu

Oleh: Sukardi

Dikala terbesit bayangan ibu

Sang kasih merintih rindu

Senyuman indah pelukan ibu

Ingin katakan  ingin ungkapkan

Hati ini jiwa ini

Kadang resah kadang gundah

Namun tetap selalu tersenyum indah



Ada kata manis

Ibu ucapkan kapada buaian yang menangis

Sampaikan baik akhlakmu

Sopanlah tutur ceritamu

Niscaya cahaya indah

Yang engkau mimpikan

Dapat engkau raih dengan senyum kemesraan





Saya suka puisi, apalagi itu karya saya sendiri. Saya terus menulis puisi. Saya akan membuat buku, menyalin kumpulan puisi saya dari tahun 2007 sampai sekarang. Semoga tercapai. Saya tidak ingin serakah dan menikmati sendiri, saya ingin sampaikan puisi saya itu kepada anak cucu saya, serta orang lain yang ingin membaca puisi karya saya.



9. Semangat Jiwa Menuju STAIN Pontianak

Sabtu, 24 Agustus 2013, pukul 13:30 WIB, saya menuju dermaga Teluk Batang, menggunakan Kapal Motor (KM) BONE 3, Saya berangkat menuju kota Pontianak. Sebelum berangkat, saya merasa sepi, sempat terpik tidak ada teman di kapal,namun nyatanya tidak demikian, Alhamdulilah di  kapal tersebut, saya banyak mendapatkan teman dan kenalan baru.                   

Minggu 25 Agustus 2013 pukul 05:30 WIB, sampailah saya di kota Pontianak, berlabuh di dermaga Shenghi, Kapuas. Saya dijemput teman dari Kota Baru,Gg. Melati 3, Ia bernama Suryadi,  saya diajak mampir kerumahnya.                        

Pukul 17:15 WIB, saya menuju gedung Islamic Centre, berada di jalan Jenderal Ahmad Yani kompleks Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Saya langsung menemui teman  yang bernama lengkap Andika Yudha Perkasa, berasal dari kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, orangnya baik dan aktif, kuliah di Universitas Tanjungpura Fakultas Pertanian, Jurusan Agribisnis.

Yudha merupakan salah satu anggota Remaja Masjid Mujahidin Pontianak, Ia banyak cerita aktivitas di organisasi Remaja Mujahidin. Yudha menawarkan saya untuk tinggal dan bergabung. Dengan senyum saya menjawab terima kasih, dan saya mau bergabung. Saya senang dengan tawaran Yudha menjadi remaja masjid, karena bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan sebagai remaja masjid di kota Pontianak.

Menjadi pengalaman pertama saya merantau, untuk melanjutkan studi ke bangku kuliah, Sejak SD, SMP dan SMA saya tempuh di Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. Setelah di Pontianak saya masih bingung dengan wilayahnya, dari situlah saya banyak bertanya kepada senior dan teman-teman yang sudah lama merantau ke Pontianak

Senin 26 Agustus 2013 pukul 09:15 WIB, saya berangkat ke kampus STAIN Pontianak, tujuan mendaftar dan mengambil formulir peserta ujian penerimaan mahasiswa baru (PMB). Ditemani oleh Bang Risky, mahasiswa semester akhir, jurusan Tarbiyah di STAIN Pontianak. Selang 15 menit, registrasi pun selesai. Pihak kampus menyuruh datang kembali,pada hari Jumat tanggal 30 Agustus 2013,  untuk mengambil nomor peserta.

Senin 2 September 2013 pukul 07:15 WIB, saya ke STAIN Pontianak untuk melihat tempat duduk ujian. Saya menikuti PMB gelombang kedua Tahun Akademik 2013.  Saya berjalan kaki, berusaha memberanikan diri menyebrang jalan raya, dan itu untuk pertama kalinya, dengan pelan-pelan, akhirnya saya sampai ke seberang jalan. 15 menit menit berjalan kaki, akhirnya saya sampai di kampus. Banyak kenal teman-teman baru. Salah satunya Syihabudin dari Jawa Barat

Selasa 3 September 2013, hari pertama seleksi tertulis.Jadwal ujian jam pertama yakni pengetahuan umum dan agama (PUA), kemudian jam kedua, tes potensi akademik. Kulalui seleksi hari pertama ini dengan lancar, dan soal-soalnya lumayan sulit menurut saya pribadi.  Rabu 4 September 2013, hari kedua seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di STAIN Pontianak. Jam pertama soal Kebahasaan dan jam kedua tes wawancara.Pada tes wawancara diuji oleh dosen yang bernama Muhammmad Rahmatullah, beliau sangat ramah dan asyik, membuat peserta tidak tertalu nervous. Seperti hari pertama, hari terakhir ujian berjalan lancar.

Senin 9 September 2013 pukul 13.00 WIB, saya ke STAIN Pontianak untuk melihat info kelulusan, dengan rasa penuh kecemasan, penasaran serta tsayat tidak lulus. Namun hati ini ada kekuatan besar dan semangat, yakin lulus. Saya menuju papan pengumuman, satu-persatu saya lihat daftar nama dan lumayan lama, akhirnya penuh syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, saya diterima di STAIN Pontianak, Jurusan Dakwah, Program Studi  Komunikasi  Penyiaran Islam (KPI).  Saya menelpon ibu di kampung, membaritahukan berita gembira tentang kelulusan saya masuk kuliah di STAIN Pontianak. Keluarga dan temen-teman mengucapkan selamat. Hari yang indah dalam hidup saya.

Sabtu 14 September 2013 pukul 08:00 WIB, tekhnical meeting (TM)  di gedung sport centre STAIN Pontianak. Pengarahan seputar perlengkapan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik ). Begitu ramai teman baru yang saya temui, dan disitu terdapat nilai semangat tersendiri dalam perjalanan hidup saya.Orientasi Pengenalan Akademik untuk  Mahasiswa Baru Tahun Akademik  2013/2014 berlangsung selama satu minggu, yakni dari Tanggal 15 sampai 21 September 2013. Banyak pelajaran yang saya dapat dari kegiatan OPAK tersebut dan lebih mengenal wilayah dan apa-apa saja yang ada di kampus.

Motivasi Saya masuk kuliah di STAIN Pontianak adalah berangkat dari kehidupan saya di Desa, yang perlu banyak ilmu pengetahuan Agama. Selain itu saya ingin mengabdi demi kemajuan bangsa Indonesia umumnya dan desa saya khususnya.

Tujuan utama saya kuliah bukan hanya untuk dapat ijazah dan kerja,  namun bagaimana caranya agar saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dan saya bawa kepada lingkungan masyarakat. Walaupun terlahir dari seorang petani, yang memegang konsep 6 P, yakni Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan, namun tidak menyurutkan hatiku untuk berkuliah di Pontianak. Semua semangat diri beserta doa orang-orang yang sayang kepada saya , menambah rasa yakin untuk kuliah di IAIN, dengan hati saya belajar, tidak hanya dengan otak yang keras.

Dengan penuh pertimbangan dan menilai seputar profil STAIN Pontianak, saya sangat tertarik dan muncul  kemauan dari hati sendiri untuk kuliah di STAIN Pontianak. Mengikuti kata orang  belum tentu baik untuk kita jika tidak tahu apa makna yang mereka katakan.

Banyak argumen tentang kampus STAIN Pontianak, ada yang bilang A dan ada yang bilang B. Dengan demikian , saya putuskan untuk berani dan langsung ke kampus STAIN Pontianak, dan yang saya dapatkan ialah  fakta nyata keindahan kampus STAIN Pontianak beserta kualitas dan fasilitas kampus. Tidak salah saya memilih kuliah di STAIN Pontianak dan saya yakin mampu untuk kuliah sampai wisuda, Amin.

Seorang tokoh yang cerdas sekaligus Rasul Pemimpin umat yang saya teladani sebagai fanutan hidup yakni Rasulullah Muhammad SAW. Jangan tinggalkan agama dan ilmu sebagai haluannya, motto hidup Saya ‘’Hidup indah dengan ilmu’’.  Saya ingin menjadi mata air yang mengisi dan terus mengisi, tanpa  berharap kembali kepada  sumbernya. semua motivasi berjalan dengan keikhlasan diiringiperbuatan baik dan kejujuran ,walau saya tidak sempurna, namun saya akan terus berusaha dan yakin bisa menjadi 100 % Mahasiswa, semangat jiwa di bumi STAIN Pontianak.



10. Dakwah Fair

Hari pertama masuk kuliah, belum ada pembagian kelas. Proses perkuliahan belum berjalan normal. Saya hanya berkenalan dengan kawan-kawan baru, mereka  juga belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM).

Pada saat itu, kami bergabung di dalam kelas, gedung Dakwah lantai bawah. Mahasiswa yang berada di dalam ruangan melibihi kapasitas, sehingga kursi di kelas tidak memadai.  Jadi diantara kami ada yang duduk di lantai.

Berselang seminggu, ada kegiatan Dakwah Fair. Kegiatan tersebut dikhususkan untuk mahasiswa Jurusan Dakwah. Kegiatan tersebut banyak memperkenalkan Jurusan Dakwah.

Sebelum pelaksaan kegiatan Dakwah Fair ini, Saya diajak oleh abang dari HMJ Dakwah yang bernama Kholiq untuk membantu menyusun kursi dan memasang tenda. Bersama kawan-kawan yang lain dengan semangat saya bekerja.

Tidak hanya bekerja kosong, kami mendapat makan siang. Hari itu menjadi hari pertama saya makan hasil keringat di kampus. Dan hari itu pulalah  yang mampu melepaskan rasa takut saya, takut tidak makan ketika berada di kota.

Ternyata tidak demikian, kalau mau aktif dan tidak malu, dengan artian tidak malu yang positif,  maka urusan makan pasti akan ada jalan keluarnya.

Hari itu juga menjadi pengalaman pertama saya manjat-manjat memasang tenda. Lumayan serem melihat ketinggian, lumayan menantang seperti ninja warrior. Kemudian kami menurunkan kursi sofa dari lantai 2 di Laboratorium STAIN TV.

Setelah itu, saya dan kawan-kawan menaiki menara yang tinggi untuk memasang baleho Dakwah Fair yang berukuran 16X8, lumayan membuat hati dag-dig-dug ketika berada diatasnya. Saya dan kawan-kawan berpose untuk minta di Foto.

Lanjut malam harinya, saya bersama bang Hanafi, berada di radio Prokom FM 107,9 MHz. Pria yang akrab disapa Mas Han, sedang sibuk mencetak sertifikat untuk kegiatan Dakwah Fair.

Lanjut lagi dengan mengemaskan semua perlengkapan untuk siang harinya. Saya dan kawan-kawan mengangkat bangku.

Awalnya saya ingin tidur di bawah tenda kegiatan Dakwah Fair, tapi karena banyak nyamuk, udara pun saat itu sangat dingin, saya pun berjalan, menemui bang Hanafi, dan akhirnya saya tidur di Laboratorium Radio Prokom.

Siang harinya, Dakwah Fair pun dilaksanakan. berjalan selama seminggu. Ada bazaar buku dari Gramedia, bertempat di Gazebo, saya dan Fatul Birri patungan membeli buku, yang berhubungan dengan cameramen professional, buku itu seharga 30 puluh ribu. Semoga bermanfaat untuk kami selama kuliah dan untuk mencari pengalaman kedepan.

Dari kegiatan Dakwah Fair tersebut, para peserta yang dikhususkan untuk mahasiswa fakultas Dakwah, mendapatkan sertifikat, yang berfungsi untuk perlengkapan persyaratan skripsi.


11. Club Menulis

Selasa 8 Oktober 2013 pukul 13.00 WIB, Saya pergi ke ruangan Club Menulis, berada di gedung akademik lantai 3, untuk menghadiri pertemuan anggota baru. Saya sedang menempuh semester pertama, alias mahasiswa baru di STAIN Pontianak.

Club menulis STAIN Pontianak dibentuk pada tahun 2010 oleh Dr. Hermansyah. Dipimpin oleh Dr. Yusriadi, MA. Bimbingan beliau sungguh mencetuskan hasil yang nyata, dibuktikan dengan karya buku-buku yang banyak dan sudah launching, serta mendapat International Standard Book Number (ISBN).

Hari pertama di Club Menulis Saya bertemu dengan Dr. Yusriadi, MA serta para senior. Saya dan teman-teman anggota baru berkesempatan untuk memperkenalkan diri, sesuai dengan pepatah, tidak kenal maka kenalan, hehe. Saya dan kawan-kawan diminta untuk memaparkan motivasi bergabung ke Club Menulis

Tujuan Saya masuk Club Menulis ingin menggali potensi diri, mencari pengalaman, pengetahuan dan membuat karya buku yang bisa dibaca oleh generasi penerus. Ada kata bijak yang membuat hati Saya semakin kuat dan meluruskan niat untuk masuk ke Club Menulis, kata bijak itu berbunyi “ Ikatlah pengetahuan dengan tulisan, sebuah sejarah akan hilang, jika tidak ada sebuah tulisan yang merekamnya”.

Saya dan senior saling sharing dan bertanya-tanya seputar Club Menulis, syarat beserta ketentuan apa saja yang berlaku.

Semangat saya terus bangkit, saya yakin dari Club Menulis saya bisa membuat sebuah buku yang bisa dibaca oleh generasi penerus hingga akhir hayat saya.

“Tidak pernah letih untuk menulis”.



12. Tinggal di Mana-Mana

Saya merasa lucu dan bingung mau menjawab apa, ketika saya di kampus sampai malam dan ditanya, “Kamu kok belum pulang?”, “Kamu tinggal di mana?”. Saya jawab, selama ke Pontianak ini tidak punya tempat tinggal, jadi saya tinggal dimana-mana.

Kalau dihitung, dipresentasikan, ditampilkan dalam bentuk diagram, waktusayaitu banyak di kampus. Satuan Pengaman (Satpam) kampus sampai mengenal saya, karena keseringan melihat nongol di kampus. Kalau ada seminar, selalu (kalau tahu) ada saya nongol, di undang dan gak di undang, datang aja, cari makan. Haha

Kalau mandi di kampus di mana-mana, semua WC kampus saya jelajahi, dari yang megah, terang dan banyak air, sampai-sampai yang kecil, gelap, sedikit air bahkan gak ada airnya.

Saya menjadikan ini hal yang seru-seru saja. Tidak dibuat ribet. Toh bisa hidup saja sudah syukur. Yang ada saja belum disyukuri, malah minta yang lebih. Gak bisa. Saya sudah berusaha lebih memahami kehidupan menjadi perantau ke kota, yang saya belum paham banyak akankeadaan perkotaan.

Awalnya tidak ingin tidur di kampus, karena ketiduran, ya saya lanjutkansaja tidur di kampus. Kalau ada satpam yang geledah, bisa-bisa bangun dengan keadaan mata masih mengantuk.

Pernah ketiduran di laboratium Radio Prokom, maaf  ya Bu Jun, beliau selaku Redaktur. Sayasudah lancang tidur di radio, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Saya pernah tidur di masjid kampus. Terkadang banyak nyamuk yang menemani. Saya juga pernah tidur di Kota Baru ujung,  didalam ruko sembako, bersama kawan. Setelah bangun tidur, badan saya berbau bawang dan sayuran, hehe.

Saya tidak tersiksa dengan keadaan ini, saya jalani dengan asyik, bukan masalah, ini akan menjadi cara saya mencari pengalaman hidup. Walau sedikit ekstrim, yang penting halal.

Saya di kenal oleh mas Han, dialah yang mengajak saya tidur di kampus pada awal-awal masuk kuliah. Pertama masih tidak berani dan malu dengan civitas kampus. Enak memang tidur di UKM, apalagi dinginnya malam membuat tidur semakin nyenyak. Habis sholat subuh, bawa tidur lagi malah makin seru. Pernah pas bangun tidur,  mahasiswa sudah ramai di kampus. Saya dan Mas Han jadi kalang kabut untuk berkemas-kemas. Seru deh.

Namun, setelah sekian lama, akhirnya ada aturan untuk UKM dari Wakil Rektor 3 (bagian kemahasiswaan), UKM tidak diperbolehkan sebagai tempat menginap, memasak, mencuci dan menjemur pakaian.

Saya tinggal di Sekretariat Remaja Mujahidin Pontianak, Gedung Islamic Center lantai 2. Berhubung ada pelaksanaa pembangunan masjid, maka semua bangunan di area masjid harus dikosongkan, dan diroboh.

Saya tidak nge-kost atau ngontrak, karena biaya pribadi yang tidak memadai. Saya tetap nekat, berusaha kuat, dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Saya yakin, akan ada rezeki yang datang, melalui usaha dan doa nyata.

Akhirnya, saya tinggal dimana-mana lagi.


13. Mai Lip Mai Setel

Mai lip, mai setel, ini adalah kata-kata yang sering teman saya, Deni ucapkan. Sebenarnya berasal dari bahasa Inggris My life is my style atau my style is my life kira-kira begitu.

Maksudnya, terserah orang mau bilang penampilan kita seperti apa, yang jelas hidup ini kita yang menjalani, tak perlu orang lain atur. Gaya kita, hidup kita, milik kita, mai lip, mai setel, hehe.

Tidak terlalu banyak gaya, tapi memang sudah ada gaya, sebagai tanda manusia yang memiliki rasa untuk mengekpresikan diri, walaupun tidak terlalu keren, tapi di kampus saya lumayan eksis dan banyak yang kenal.

Saya juga tidak mengerti kenapa bisa begitu. Mungkin karena suka buat tulisan di warta kampus. Tapi saya mikir lagi, kok bisa, padahal di tulisan itu tidak ada wajah saya. Namun saya tetap bersyukur bisa dikenal oleh orang banyak. 

Sebab mecari kenalan yang banyak di kampus sudah menjadi target awal saya masuk kuliah. Saya tidak memilah dan memilih, mau kenalan di jurusan dan prodi apapun di kampus. Yang penting banyak kawan.

Gaya sayapun tidak mentok sebagai anak KPI, biasanya saya rapi, pakai batik tapi tidak memakai sepatu hitam, karena gak punya, coba punya, pasti dan insyaallah saya pakai. Tidak perlu dibelikan, sepatu saya masih bagus, tapi kalau anda memaksa ya silahkan, hehe.

Dengan bergaya seperti itu, saya terkadang disangka anak Tarbiyah. Kemudian, kalau saya pakai celana jeans dan baju gaya-gaya boyband, walau belinya lelong di Kota Baru, saya dikirain anak Syariah.

Di facebook saya pernah chatting dengan 5 cwek yang satu kampus dengan saya. Saya belum kenal sama mereka, niat hati mau kenalan banget, ehh mereka balas chat , dan sudah kenal ternyata. Nasib-nasib, jadi orang terkenal, Hehe.

Ya sedikit demi sedikit, usaha saya mencari banyak kenalan di kampus, sudah tampak tanda-tanda kesuksesannya.

Tidak hanya di kelas, ke UKM-UKM yang lain pun saya lakukan PDKT, ke Akademik juga, yang spesial, bisa bertemu pak Hamka Siregar, selaku rektor IAIN Pontianak. Walau tinggal dimana-mana tidak menjadi masalah bagi saya, yang penting bisa bernapas dan bisa mengatur waktu untuk kuliah, yang paling penting bisa mengatur makan serta dimana menyimpan pakaian, haha.


14. LPM Warta

Tulisan saya tentang semangat jiwa di STAIN Pontianak, pada waktu lomba menulis massal edisi OPAK 2013, telah membawa dan memperkenalkan saya pada salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang berada di STAIN Pontianak. UKM yang berhubungan dengan dunia tulis menulis dan membuat berita, yakni UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak. UKM ini terbentuk pada tanggal 27 Mei 2007.

Senior LPM yang pertama kali saya kenal, bernama  Hanafi (Mas Han) sebagai sekretaris dan layouter, Slamet Funata sebagai ketua, Sumama sebagai kepala bidang penerbitan dan Nur Imania Fitriani sebagai bendahara umum.

Awal masuk kuliah, waktu OPAK berlangsung, saya suka dan kagum kepada mereka yang sibuk meliput dan memburu berita. Yang pernah saya buat jengkel itu kak Imania, saya menyapa dan bergurau dengan dia ketika OPAK berlangsung.

Pada bulan November 2013, saya dan kawan-kawan yang mendaftar di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak mengikuti pengukuhan anggota baru.

Sebelumnya saya dan kawan-kawan mengikuti pekan Oktober selama 1 bulan, ada tiga kali pertemuan. Pada kegiatan itu kami diperkenalkan berbagai bentuk, sistem dan tata cara membuat opini, berita, peliputan serta semua yang berhubungan dengan dunia jurnalistik.

Pertemuan pada minggu pertama kami mendapat materi tentang opini , minggu kedua pembuatan berita, minggu ketiga evaluasi serta penutupan dari pekan Oktober.

Pada awal pendaftaran peserta yang mendaftar lumayan ramai, namun setelah berlanjut terjadilah proses yang disebut seleksi alam. satu persatu kawan-kawan yang mendaftar tidak melanjutkan untuk bergabung di LPM.

Pada waktu itu saya merasa senang karena yang ikut ramai. Namun selanjutnya semakin berkurang karena sudah menjadi keputusan mereka masing-masing untuk lanjut atau tidak. Karena tidak ada paksaan untuk bergabung di LPM. Semua yang terbaik adalah apapun yang dari hati kita, selain adanya pertimbangan dari orang lain. Menurut saya pribadi masukan dari orang lain juga perlu, namun perlu ada pertimbangan dan penyaringan dari kita pribadi sebelum mengaplikasikannya.

Yang mengikuti pengukuhan ada 23 orang.Kegiatannya seru dan banyak dapat pengalaman baru.Setelah hari itu saya sah secara prosedur menjadi wartawan kampus di LPM STAIN Pontianak. Sungguh tidak kepikirkan oleh saya ketika di kampung untuk menjadi wartawan kampus. Saya jalani itu semua dengan niat dan ketulusan hati. Sayapun bisa banyak kenalan dan teman semakin bertambah setelah menjadi wartawan di kampus.

Satu persatu saya pelajari tentang jurnalistik. Saya mulai mengenal serta semakin asyik memburu berbagai info dan berita. Harus berbagi dengan waktu kuliah. Karena niat dan berusaha belajar mengatur waktu. Sehingga walau tugas kuliah banyak, tugas dari Lembaga Pers Mahasiswa juga bisa terselesaikan.

Membuat Warta Sepekan, alhamdulillah berita perdana saya bisa menjadi berita utama. Menambah motivasi saya.

Setelah menjadi anggota baru LPM, saya dan kawan-kawan mengikuti pelatihan kepanitiaan dan membentuk panitia pelaksana seminar jurnalistik. Seminar ini adalah salah satu program kerja pengurus LPM. Kami belum menjadi pengurus karena masih menunggu musyawarah besar serta pergantian pengurus pada bulai Mei nanti.

Di panitia pelaksana, saya menjadi sekretaris umum. Suatu  tanggung jawab yang besar, karena seminar tersebut se-kota Pontianak. Saya yang belum terlalu kenal dengan sistemnya merasa bingung. Dari situlah saya belajar kepada sekretaris umum pengurus LPM yang bernama Hanafi, banyak ilmu yang dia ajarkan kepada saya. akhirnya sedikit demi sedikit saya menjadi mengetahui dunia sekretaris.

Seminar jurnalistik independen se-kota Pontianak bertemakan optimalisasi pers di dalam mengawal isu bangsa. Saya mencari cara dan waktu yang baik untuk selalu membuat kerjasama dan rapat bersama kawan-kawan LPM.

Ketika itu saya dan kawan-kawan mengalami kendala di peminjaman tempat, akhirnya ditunda  hingga tahun 2014.

Memang sudah seyogyanya didalam kepanitiaan yang mengadakan acara tidak semuanya berjalan mulus, pasti akan ada masalah serta kendala yang dihadapi. Baik itu dari internal lembaga maupun dari eksternal.

Pada tanggal 3 Januari 2014, dengan semangat dan kemauan dari kawan-kawan panitia akhirnya seminar jurnalistik independen se-kota Pontianak yang diselengarakan bekerjasama dengan HMJ Dakwah, akhirnya terlaksana. Dan bertempat di ruang teater UPT STAIN Pontianak. Peserta kami mengundang untuk mahasiswa dan pelajar.

Awalnya saya sempat pesimis dan takut tidak ada peserta yang datang. Ternyata sebaliknya,  satu persatu peserta berdatangan.

Kami menghadirkan pemateri, bernama Aceng Mukaram dari wartawan VIVA News dan senior LPM. Pemateri kedua, Syamsul Kurniawan, M.Si dosen STAIN Pontianak dan penulis.

Sungguh seminar pertama kali yang saya dan kawan-kawan LPM laksanakan, penuh dengan perjuangan. Rasa optimis dan semangat serta kekompakanlah yang membuat kami mampu melaksanakan seminar jurnalistik ini. Ingin berbagi ilmu dan  pengalaman serta pengenalan dunia jurnalis itu menjadi  tonggak rasa saya dan kawan-kawan LPM sebagai inspirasi. Kami akan membuat seminar yang tidak kalah bergengsinya pada kesempatan yang akan datang.

Jurnalis tidak bisa dianggap remeh, sebagai wadah pencerah dan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang dinamika yang terjadi dibangsa, baik itu pemerintah maupun rakyat itu sendiri.

Pada orde baru sebelum reformasi, wartawan tidak memiliki hak dan kebebasan untuk menciptakan inspirasi melalui tulisan yang berfungsi sebagai sarana propaganda yang sangat baik.

Banyak jurnalis yang gugur di lapangan karena orang-orang yang tidak suka dengan jurnalis yang mengungkapkan fakta dan kebenaran. Dari pengalaman dan sejarah tentang jurnalis membuat saya bangkit ingin menciptakan perubahan pada masyarakat yang mengalami penindasan serta tidak mendapatkan haknya.

Ilmu saya tentang jurnalistik masih sedikit, namun semangat saya sangat kuat untuk mempelajari lebih banyak. Semua tidak akan berubah jikalau tidak kita yang merubahnya.

Tetap tersenyum dan semangat di LPM STAIN Pontianak bersama kawan-kawan jurnalis kampus yang seru.Dengan menulis Moment akan selalu terekam dan terdokumentasikan, sejarahpun tidak akan hilang.


15. Ulang Tahun

Hari ini saya ulang tahun yang ke-19.

Hati saya sangat bahagia, rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah memberi saya usia hingga saat ini. Hari-hari berlalu bersamanapas dan waktu.

Ibu dan Ayah terima kasih karena kasih sayang kalian, merawat saya hingga dewasa ini, dengan sabar mendidik dan memberi pelajaran arti kehidupan. Ibu dan Ayah maafkan semua kesalahan, yang telah saya perbuat. Saya berjanji akan bersungguh-sungguh didalam hidup ini dan akan membuat kalian bahagia.

Fitri dan Topin, kalian ialah saudara saya tercinta, maafkan saya jika ketika bersama, saya pernah bertingkah salah  dan membuat kalian marah. Jujur saya sayang kepada kalian semua, kenangan bersama kita dari kecil hingga sekarang tidak akan terlupakan. Terima kasih juga kepada guru-guru saya yang telah bersedia sempat meluangkan waktu dan teman-teman seperjuangan saya.

Ulang tahun ke-19 ini, saya berada di kota Pontianak, sebagai mahasiswa baru jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fsayaltas Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.

Pagi, tepatnya pukul 08.00 wib (05/10) ada kegiatan pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IAIN  Pontianak.Materi pertama tentang pembuatan opini, partisipasi dan semangat peserta membuat kegiatan ini semakin seru.

Pukul 12.00 wib kegiatan pun selesai. Ada adegan panitia ingin mengerjai saya, dengan modus, menuduhsaya mengambil uang di ruangan LPM. Ceritanya, saya pernah tidur di LPM, bersama bang Hanafi mahasiswa KPI semester 3. Dia sekretaris di LPM, rencana panitia diatas berjalan mulus, panitia yang tahu akan ulang tahunku ialah kak Sumama, setelah beberapa menit saya disiram dan mandi tepung di sekujur tubuhku.

Hmm.. saya menjadi sangat putih karena warna kulit saya coklat dan hitam, di kasi tepung jadi lucu banget, saya mengucapkan terima kasih kepada peserta dan panitia. Sungguh hari yang mengesankan, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan doa dan harapan kedepan.  Semoga dengan bertambah umur, saya bisa lebih dewasa, bisa sukses dimasa sekarang dan masa akan datang, masa depa yang cerah, membuat bangga kedua orang tua, terus harapan untuk LPM bisa makin mantap, amin.

Setelah itu sayabersihkan sisa tepung di badan. Saya dan kawan-kawan makan siang di UKM LPM. Sungguh moment yang tidak akan terlupakan.


16. Jurnalis Kampus

Entah mimpi apa yang membawa dan menjadikan saya mahasiswa yang berprofesi sebagai  wartawan kampus.  Ini bukan mimpi di dalam tidur bersama dinginnya malam. Ini mimpi yang diiringi dengan usaha pasti. Pelajaran dan pelatihan yang saya ikuti, sungguh membuahkan hasil.

Saya bisa tersenyum, setelah dikukuhkan menjadi wartawan kampus. Saya adalah seorang anak desa yang jauh dari kota, terpisahkan oleh samudera luas, desa Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara, tempat  saya berasal. Bisa ke kota dan berkelut di dunia jurnalistik, ketika saya kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD)  Isntitut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat.

Ketika di kampung, sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, saya belum mengerti dan mengenal dunia jurnalistik. Baca koran atau menemukan surat kabar lumayan susah. Karena kontribusi koran ke desa saya kurang maksimal. Saya membaca koran, yang didapat dari bungkus bawang dan terasi, hehe. Beritanya pun sudah kadaluarsa. Untungnya, saya tidak keracunan. Ada berita yang sudah setahun lalu yang saya baca.

“Tidak mudah menjadi wartawan, resikonya besar, dan harus ikhlas dibunuh”. Itu yang dikatakan senior Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IAIN Pontianak, ketika saya bergabung sebagai anggota baru. Mengapa dikatakan demikian, karena seorang pemburu berita akan mencari kebenaran dari suatu masalah, menyelesaikan isu-isu yang sedang beredar, serta mendokumentasikan moment-moment yang sedang terjadi. Itulah yang dikerjakan oleh seorang Jurnalis. Ada saja pihak yang tidak berkenan dengan berita dan informasi yang kita muat di surat kabar. Salah satunya mereka yang tersampaikan kejelakannya, seperti para koruptor dan pelsaya tindak pidana lainnya.

Saya bergabung di  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Sebelumnya saya mengikuti kegiatan pekan Oktober, yang dilaksanakan selama 3 pekan pada bulan Oktober tahun 2013.

Pada kegiatan tersebut, banyak pengetahuan dan pengalaman yang saya dapat. Mendapat teori tentang pembuatan opini, berita dan teori lainnya. Semua itu berkaitan dengan dunia jurnalistik.

Pada pengukuhan tersebut, kami mengenal  wartawan senior LPM IAIN Pontianak, sekarang bekerja di media cetak Pontianak Post. Beliau bernama bang Hakim. Kemudian Bang Aceng, wartawan VIVA News. Kemudian Dr. Yusriadi, Beliau dosen IAIN Pontianak serta pimpinan redaksi Borneo Tribune, kemudian bu Juniawati, direktur radio komunitas ProKom 109.7 FM di IAIN Pontianak.

Setelah pekan Oktober, saya dan kawan-kawan mengikuti pengukuhan anggota baru LPM pada tanggal 2-3 November 2013. Kegiatan tersebut berjalan lancar, dan saya resmi menjadi anggota. Id Card atau kartu identitas wartawan kampus saya dapatkan ketika pengukuhan tersebut.Sungguh membuat bangga dan semangat dalam kehidupanku, menjadi wartawan dilingkup kampus dan saya yakin bisa  menjadi wartawan di lingkup luas, di luar sana. Yakin bisa.

Motto saya di LPM: “ Pantang Pulang Sebelum Dapat Berita.”


17. Empat Mata Bersama Rektor

Sebagai jurnalis kampus. Saya memiliki keinginan untuk bisa bertemu dengan para civitas akademika dan orang-orang penting yang ada di kampus. Salah satunya rektor IAIN Pontianak, Bapak Dr. Hamka Siregar, M.Ag.

Sejak pertama menjadi mahasiswa di IAIN Pontianak, saya sudah punya keinginan untuk berjabat tangan, bertemu dan berbicara langsung bersama beliau.

Sudah tiga kali ke ruangan beliau, namun tidak bisa bertemu, karena kesibukan beliau, salah satunya kegiatan ke luar kota.

Tepat hari Senin siang sebelum sholat Ashar, pada tanggal 13 Januari 2014, saya bisa bertemu langsung, berjabatan tangan, dan mewawancarai beliau seputar peresmian alih status STAIN Pontianak, menjadi IAIN Pontianak. Sungguh saya merasa bahagia bisa bertemu beliau secara langsung dan saling bertatap wajah. Ketika itu saya sedang bertugas dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) IAIN Pontianak.

Dengan menulis dan membuat berita, saya ingin membawa perubahan yang lebih baik dan berusaha memelihara yang sudah baik. Semoga tercapai. Bagi sebagian orang, berjabat tangan dengan Pak Hamka mungkin hal yang biasa. Tapi, bagi saya pribadi, menjadi hal yang sangat berkesan. Apalagi bisa berduaan dengan beliau, Ciee.Siapa tau,  saya bisa jadi rektor seperti beliau, amiin.


18. “Siapa  Menanam, Maka Memanen”


“Siapa yang menanam, maka ia yang akan memanen”.

Kata-kata di atas, saya dengar dari seorang pembimbing club menulis STAIN Pontianak, Pak Yusriadi. Kata-kata itu mampu membangkitkan semangat saya. Kata-kata itu mengajak saya untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, yang pada suatu saat nanti, hasilnya bisa dinikmati.

Jika yang ditanam berupa kebaikan, maka yang akan dipanen ialah kebaikan. Sebaliknya, jika yang ditanam suatu keburukan, maka yang akan didapat ialah keburukan pula. Itu sudah menjadi hukum dan fakta kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT.

Sesuatu yang ditanam dengan baik, dirawat dengan benar, dan disiram teratur akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna.

Seseorang yang menanam akan tersenyum, ketika apa yang ia diharapkan bisa hadir dengan sempurna. Jika gagal, itu bukanlah akhir, kita diberi kesempatan untuk menciptakan yang lebih baik lagi. Jika gagal lagi, bisa jadi kita terlalu menyombongkan diri dan kurang memahami.

Ketika sedih dalam kegagalan, ingat masih ada Allah SWT. “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”, Q.S : Attaubah, ayat 40.

Terjatuh didalam usaha memang sesuatu yang harus siap kita hadapi. Tidak semuanya berjalan mulus seperi apa yang kita inginkan. Ada saja liku-liku kehidupan yang menemani kita. Terkadang kita berada diatas, maka kita tersenyum dan senang. Ketika kita berada di tengah, maka kita harus waspada. Dan ketika dibawah,  kita akan  bingung, bahkan sedih ketika merasakan kesakitan. Itu semua merupakan dinamika kehidupan, yang terus berotasi dan berada diposisi siklusnya.

Sejak lahir, manusia telah mendapatkan fitrahnya masing-masing. Baik ia mendapat fisik yang baik dan kurang baik. Ia mendapat otak cerdas dan kurang cerdas, dan sebagainya, itu semua sudah menjadi kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kita sebagai makhluk-Nya wajib menerima dengan ikhlas, karena yang didapat sesuai dengan porsi.

Orang  yang sibuk di masa sekarang, akan bersantai di masa depan. Sebaliknya, orang yang bersantai masa sekarang, akan sibuk di masa depan. Kita sudah memiliki, sedangkan mereka baru  memulai.  So, anda mau pilih yang mana? (*)


19. Pertama Kali Bertemu Macet

Senin 21 Oktober 2013, pukul 07.00 Saya berangkat bersama teman Saya yang bernama Ahmad Jailani, tinggal di jalan Selat Panjang. Tiga hari Saya di rumah Jai mengerjakan beberapa tugas kuliah. Di rumah Jai seru juga, kalau malam hari dari magrib ada anak-anak mengaji kepada ayah dan Ibu Jai yang menjadi kepala PAUD di komplek Jai tinggal. Jai anak tertua dari tiga bersaudara.

Menggunakan sepeda motor, bayangan saya nanti di perjalanan bisa lancar dan cepat sampai ke kampus. Ehmm.. ternyata eh ternyata ada macet yang sangat panjang di jembatan tol, itu menjadi pengalaman pertama Saya berhadapan dengan macet. Saya merasa boring  karena lama banget di jalan raya.

Namun saya tetap senang, karena macet itu menjadi salah satu kenangan memori ingatan Saya. Dari banyaknya penduduk dan aktifitas dengan waktu yang bersamaan, akses jalan yang tersedia masih kecil dan memang segitu adanya.

Dengan sabar akhirnya sampai juga di jembatan Kapuas satu, hati dag-dig-dug, melihat jam, karena takut terlambat masuk kelas jam kuliah.

Setelah melewati jembatan, si Jai langsung tancap gas menambah kecepatan agar lekas sampai ke kampus STAIN Pontianak.

Akhirnya Sampai juga di kampus di kampus, masuk kelas bertemu dengan teman-teman , online sebentar, menunggu dosen yang lama banget tidak datang, sampai pada mata kuliah kedua, dan belum ada dosen.

Saya pun menuju meja dosen, ingin melihat absen, ternyata nama saya dan NIM saya tidak tercantum di kelas KPI A.  Langsung saja Saya menuju ruang prodi Dakwah di akademik. Saya bertanya dengan pengurus yang ada di ruang tersebut. Ternyata nama dan NIM Saya berada di kelas KPI B. Spontan rasa bingung datang di otak, sudah dua minggu kuliah Saya berjalan di kelas KPI A dan sudah mendapat tugas dan mendapat mendapat pembagian kelompok.

Kalau pindah ke kelas B, maka sistem akan berubah. Dengan ikhlas dan sabar saya menerimanya. Mungkin itu yang terbaik, meninggalkan ruang A di gedung fakultas dakwah menuju ruang B di gedung akademik lantai 4, menaiki tangga yang lumayan melelahkan dan banyak. Padahal ada akses tangga lif menuju lantai 4, namun fungsinya hanya di khususkan kepada dosen dan pegawai untuk menggunakannya.

Padahal kami kuliah bayar, mengapa melewati lif saja tidak diperbolehkan, mungkin takut bangunan gedung akademik tersebut ambruk.? Entah lah.

Perasaan saya ketika itu bercampur aduk, sedih karena berpisah kelas dengan kawan akrab (Faul, Mia Anjelina dan kawan-kawan yang lainnya, pusing mau membagi tugas yang telah dibuat.

Saya rasa ini suatu cobaan untuk saya bisa berbagi waktu dan mengatur strategi kuliah. “baru dua minggu saya salah kelas, daripada dua tahun.”

Tetap semangat, yakin bisa … !


20. Pindah ke kelas KPI B

Saya hanya bisa mengikuti  prosedur, dan tidak bisa berbuat banyak, padahal saya sudah memohon banyak.

Kawan-kawan di kelas banyak yang ingin tetap saya bertahan di KPI A. mereka berkata “Tidak seru kalau tidak ada kamu Sukardi”.Dua hari sebelum pindah saya sudah pikirkan matang-matang dan sedih tidak ingin pisah bersama kawan-kawan lainnya.

“Abang jadi pindah kah?” tanya seorang teman. “Iya, tadi sudah ke prodi, dan prodi memberikan jawaban nama dan NIM saya ada di KPI B” Saya menjelaskan dengan nada tidak semangat sembari menutup ransel.

“Tidak bisa tetap disinikah?, mohonlah.” Mereka menatapku sendu. “Iya mau diapakan lagi, saya tetap ikut prosuder yang berlaku saja” jawaban saya denga lepas.

Dua hari berikutnya saya langsung masuk KPI.B, bingung juga saya mencari tugas-tugas yang yang harus saya sesuaikan dengan kelas baru itu. Berubah semua jadwal, berubah semua strategi dan  penyesuaian dengan kawan-kawan baru.

Mereka tidak langsung menerima kehadiran saya, mereka menganggap saya seperti orang asing dan seperti makhluk yang baru turun dari angkasa. Saya bukan mau berburuk sangka, itulah yang saya lihat dan saya rasakan pada hari pertama pindah kelas. Saya tetap menjaga sikap, kata dan tingkah sebagai mahasiswa yang baru pindah kelas.

Saya tetap berbicara dengan gaya saya pribadi. Tidak ada tingkah yang di buat-buat dan menyinggung orang lain. Menyapa dan mencari tempat duduk serta posisi yang sekiranya tidak mengusik mereka yang duduk di kelas KPI B lebih dahulu. Penyesuain berjalan lancar, dan saya merasa nyaman berada di KPI B.


21. Celana Hitam

Ketika di kamar  kecil gedung Tarbiyah, saya diam lumayan lama. Ngapain?

Itu terjadi karena ada masalah pada celana hitam saya. Resletingnya macet dan akhirnya rusak, tidak bisa digunakan lagi. Saya merasa panik banget, karena dosen tidak lama lagi masuk ke ruangan kelas, mata kuliah Ushul Fiqh, yang diampu oleh bapak Abu Bakar M.Si, Saya takut dan bahkan tidak ingin terlambat masuk kelas. Dengan hati-hati dan pelan-pelan saya tutupi celana bagian depan dengan sambil menarik bajuku. Saya keluar dari toilet dan menuju UKM LPM. Saya bertemu bang Hanafi.

Beruntung  hari itu, Bang Hanafi memiliki dua celana kain,warna hitam dan panjang. Sehingga saya dapat meminjam dan memakainya, dan saya ucapkan terima kasih kepada bang Hanafi. Segera saya menuju kelasku, KPI 1 B,  yang terletak di gedung rektorat lantai 4, lumayan jauh dan tinggi jika ingin mencapai tempat tersebut.Celana  bang Hanafi lumayan gede’, tapi saya tidak peduli, yang penting ada celana dan bisa ikut mata kuliah hari  ini.

Celana hitam satu-satunya, awal masuk kuliah saya bawa dari kampung dan saya sayang, J Bersama saya seminggu, dan sekarang sakit , harus masuk kerumah jahit. Untung kakak teman, ada yang pandai menjahit dan punya mesin jahit, dia kakaknya bang Ahim. Segera saya menghubungi bang Ahim dan meminta bantuannya untuk  celana saya. Bang Ahim membawa celana hitamku kerumahnya dan di operasi (dijahit). Berselang satu hari, celana saya sudah sembuh. Betapa senangnya hatiku  melihat celana saya telah mantap lagi.

Saya mulai semangat lagi menjalankan aktifitas perkuliahan. Walau hanya punya satu celana ketika itu, namun saya tetap bersyukur masih punya celana dan bisa kuliah. Celana hitam, I love You.


 22. Tulisan Tidak Akan Pernah Padam

“Bisa gak ya?. Harus mulai dari mana?”

Itulah pertanyaan yang keluar dari benak saya, ketika saya akan menulis. Disaat seperti itu,  pikiran saya teringat dengan perkataan seorang dosen, yang saya kenal ketika Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK), di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.

Dosen itu berkata kepada kami, “ Tulislah apa saja yang ingin kamu tulis, jika kamu bingung, tulislah  kebingunganmu tersebut. Setelah itu, akan menjadi sebuah kalimat, kemudian menjadi paragraf, dan dari situ kamu sudah membuat tulisan.”

Mendengar penjelasan dari dosen tersebut, saya menjadi semangat dan berkata, “Ternyatamenulis itu tidak sulit” dengan mimik wajah sedikit polos.                                   

Saya  mengambil pulpen dan buku yang ada di dalam tas, dengan segera menulis suasana di dalam kelas itu. Saya gambarkan dalam bentuk tulisan. Saya mulai dengan satu titik yang mungil, kemudian menjadi satu huruf, satu kata, satu kalimat dan akhirnya menjadi satu paragraf. Saya kerjakan di atas kertas yang semulanya putih polos. Setelah itu, tinta hitam mengotori kertas tersebut dengan tulisanku. perlahan-lahan namun pasti. Saya mulai merasakan, ternyata menulis itu asyik.

Semester pertama saya jalani, ada dua belas mata kuliah yang harus saya hadapi, salah satunya berhubungan dengan menulis, mata kuliah apakah itu? Ya, tepat jawaban anda, mata kuliah “Bahasa Indonesia”.

Hari pertama mata kuliah Bahasa Indonesia, kami satu kelas mendapat tugas membuat tulisan. Bagaimana  bentuknya? bentuknya itu mencatat kegiatan sehari-hari dalam sebuah buku catatan harian (diary).

“Bisa gak ya?. Harus mulai dari mana?”, lagi-lagi pertanyaan itu hadir dalam benak saya ketika mau memulai menulis. Hatiku bangkit lagi, setelah teringat  perkataan dosen ketika OPAK itu,  saya mulai menulis lagi.

Sejak Sekolah Dasar (SD) sampai ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA),  saya belum pernah membuat catatan harian. Sekarang kuliah, saya punya konco baru, yakni buku diary. Mengapa saya katakan konco baru?, karena ia setia menemani saya dan betah berlama-lama dihadapan saya,  mendengarkan semua curahan hati. Yang kadangkala senang, sedih dan sebagainya, semua itu saya tulis bersamanya.

Awalnya, saya menganggap buku catatan harian sebagai buku tugas Bahasa Indonesia, namun setelah banyak catatan harian yang saya tuangkan, dan saya baca kembali di waktu luang,  sungguh terasa lucu dan menyenangkan.

Contohnya, ketika ada kejadian yang telah terlupakan, namun di dalam tulisan, kejadian itu tetap ada, dan mengingatkan saya kembali akan suasana tersebut. Asyik bukan?, pasti anda belum yakin dan belum bisa mengatakan “Iya”. Silakan anda mencoba terlebih dahulu menulis kegiatan sehari-hari, setelah satu bulan, buka dan baca kembali, saya yakin, anda akan menjawab, “Wah, menulis asyik ternyata ”.

Jadi, jangan takut menulis, jangan malas menulis, jangan berhenti menulis, dan jangan hilangkan kejadian dalam hidupmu. Sayangkan kalau tidak ditulis? Karena dengan tulisan, sejarah hidupmu akan terus terekam.

Sebuah tulisan tidak akan pernah padam. Bagaimana kalau hilang? jika hilang pun, dan ditemukan oleh orang lain, tulisan itu masih bisa dibaca. Terkecuali tulisan itu punah, dilahap oleh si jago merah alias api,  tenggalam di muara butiran putih alias air, dan rusak  oleh si penikmat softfile alias virus komputer.(*)


23. Bahrul Ilmi

Saat pagi tiba, kita harus segar dan bangun dengan semangat yang baru. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi orang yang tidak lemah dan tanpa usaha. Bertindak dengan fakta, bukan hanya dengan kata-kata manis saja.

Setelah tiba di kampus, saya bertemu dengan sahabat baru. Dia seorang anak dengan penuh semangat. Walaupun hidupnya tidak sempurna dalam segi fisik, tapi ia tetap bersemangat dan belajar dengan sungguh-sungguh. Semangatnya menjadi motivasi pribadi yang saya rasakan. Dia jago di dalam dunia tehnologi informasi. Penggerak salah satu blogger. Dengan nama web Softrikinfo.

Walau tidak normal, keinginan hidupnya jauh lebih baik. Jauh lebih kuat dari orang yang diberi anggota tubuh normal. Dia bergerak bukan dengan otot, bukan tidak bisa namun dia lebih mengandalkan otak dan hati sebagai ungkapan rasa sayangnya kepada siapapun yang hadir didalam kehidupannya.

Dia adalah anak yatim piatu, yang sekarang tinggal bersama neneknya yang tersayang. Penghasilan sehari-hari ia dapat dari meng-instal ulang laptop, memperbaiki komponen laptop yang ia pahami, menjual pulsa dan hal lainnya yang belum saya ketahui.

Saya mengenalnya dari awal masuk kuliah, tepatnya pada OPAK hari pertama. Ia berada satu barisan didepan saya. Saat itu ia menyenggol saya, dia berkata “Maaf, saya memang kayakgini jalannya”. Padahal waktu itu saya tidak marah, malahan saya ingin berkenalan.

Kami berjalan menuju gerbang kampus, dengan penuh semangat, ia berjalan seperti pembalap yang ingin mencapai garis finish. Ia mengikuti aba-aba yang disampaikan oleh senior. “ cepat cepat ! “ Orientasi pun selesai, kami memasuki perkuliahan, saya satu kelas bersamanya.

Dia terlihat sedang menulis, menuangkan kata-kata di dalam lembaran word di atas meja redaksi lembaga pers mahasiswa. Saya juga salah satu manusia yang beruntung bisa diterima dan hadir didalam ruangan itu. Kami sering share tentang IT dan tulisan. Kami sama-sama berjuang di LPM IAIN Pontianak. Saya sudah menganggap ia sebagai saudara angkat saya. Salam hangat untuk Bahrul Ilmi.


24. Mendaki Hari

Seutas tali yang lembut, akan menjadi kuat, ketika ada tarikan  dari dua sudut  yang berbeda, yang berusaha sama mendapatkan kebutuhan. Begitulah dengan kita yang sedang menjalani kehidupan ini, ketika lemah tanpa semangat dan kekuatan, kita harus memiliki pasangan untuk saling bekerjasama.

Berbicara semangat, menurut saya pribadi, semangat terkuat ialah semangat yang hadir dari dalam diri kita sendiri, dan memang kita makhluk sosial, yang tidak luput untuk saling membutuhkan bantuan orang lain.

Terkadang manusia lupa akan sesuatu yang ada di sekitar, ya semesta, mereka merasa hebat dan besar dengan dirinya sendiri. Padahal sesuatu yang hadir disekitar itulah yang menemani dan membangkitkan suatu keinginan. Orang bisa sukses bukan karena ia berdiri sendiri, akan tetapi mereka sukses karena kebersamaan dan kejujuran.

Mendaki hari, ialah suatu perbuatan yang membutuhkan niat, usaha dan doa yang kuat. Mendaki hari, suatu pekerjaan yang bergerak untuk kita kerjakan. Terkadang ada saja dinamika yang menghambat perjalanan itu. Ketika terjatuh, seseorang mudah sekali untuk mengeluh, padahal itu ialah awal untuk menuju kebangkitan. Terjatuh akan membuat kita lebih berhati-hati kedepan, terjatuh ialah awal menuju kesuksesan.

Jangan melihat orang sukses pada fase enaknya saja, tapi lihat fase dia ketika memulai suatu karir, lihatlah masa lampau dia yang begitu berat, jatuh bangun ialah suatu yang sudah menjadi makanan. Jangan melupakan sejarah kehidupanmu, dan jangan sombong jika kamu sudah mampu berdiri pada hari yang telah kamu daki dengan penuh perjuangan, jika sombong, maka keruntuhan akan hadir, dan kamu akan terjatuh dari hari yang telah kamu daki. Terus semangat, berjuang dan berdoa, mengharap ridho Tuhan didalam mendaki hari.


25. Masakan Tradisional Melayu

Setelah pulang dari Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat, mengikuti workshop sejarah dan nilai budaya Melayu Kalimantan Barat. Saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang budaya Melayu. Semakin kuat keinginan didalam hati saya  untuk mencari data dan informasi tentang Melayu. Saya mendapat tugas riset dalam bentuk tulisan, tentang masakan tradisional Melayu.

Hari masih gerimis, saya telah tiba di kampus STAIN Pontianak. Duduk sejenak dan berpikir akan menuju kemana untuk mencari info tentang makanan tradisional Melayu.

Saya berjalan menuju Gazebo (bundaran yang ada di STAIN Pontianak). Disana ada beberapa mahasiswa yang lagi asyik online. Saya mengobrol dengan kawan yang ada di Gazebo itu dan meminta untuk searching gambar makanan tradisional Melayu. Jujur saja, Saya kurang mengetahui jenis-jenis makanan tradisional Melayu di Indonesia dan Kalimantan Barat khususnya. Jadi, Saya menggunakan jasa Internet untuk mencari gambar yang berhubungan dengan makanan khas Melayu.

Saya berjalan menuju jalan Gajah Mada, namun belum mendapatkan informasi masakan tradisional Melayu. Kembali saya menuju kampus STAIN Pontianak. Saya istirahat sebentar di Masjid STAIN Pontianak sampai waktu sholat Ashar tiba. Saya lanjut jalan lagi menuju jalan Veteran. Sama dengan sebelumnya, saya belum dapat info tentang masakan Melayu. Saya tetap semangat dan sabar, yakin pasti sampai pada tujuan.

Saya pulang ke sekretariat Remaja Mujahidin Gedung Islamic Center komplek Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Hati saya masih belum tenang dan penuh rasa penasaran untuk dapat mewawancarai seseorang yang tahu tentang masakan tradisional Melayu. Berselang setengah jam, Saya melanjutkan perjalanan lagi untuk riset ke lapangan. Saya turun dari lantai dua . keluar dari gerbang area masjid mujahidin, rezeki saya lagi mujur, seketika hadir seorang nenek yang keluar dari arah jalan Mujahidin.

Si nenek berjarak 10 meter, bergegas saya menghampiri nenek itu dengan niat bertanya-tanya seputar masakan tradisional Melayu, saya bersiap-siap seperti wartawan profesional, mengaktifkan aplikasi rekaman  di handphone.

Saya langsung mengucapkan salam dan bersalaman,  sebagai tanda hormat kepada nenek itu. Nenek menerima hormatku dan tersenyum. Nenek itu mengira kalau saya hanya ingin lewat dan berpapasan saja. Nenek menyuruh saya berjalan duluan karena beliau berjalan agak pelan. Saya meminta maaf dan menjelaskan maksud dan tujuan saya untuk bertanya-tanya masakan tradisional Melayu. Pas banget nenek itu orang Melayu asli.

“Maaf Nek, saya ingin bertanya tentang masakan tradisional Melayu?” saya memulai  pertanyaan kepada nenek.

“Oo.. masakan khas Melayu Nak..” jawab nenek memastikan.

“Apa masakan tradisional Melayu yang nenek ketahui?” saya bertanya dengan fokus.

“Pacri nanas.!”, nenek menjelaskan.

“Cara membuatnya bagaimana Nek?” tanya saya penasaran.

“Nanasnya dipotong-potong. Ada dua macam cara memotongnya. Yang pertama nanas dibelah menjadi empat bagian kemudian dipotong biasa. Yang kedua dipotong kotak-kotak atau berbentuk persegi empat.” papar nenek

“Kemudian bahan-bahannya Nek, apa-apa saja?” tanysaya melanjutkan.

“Nanas sebagai bahan utama, kemudian ada tambahan rempah-rempah khusus. Rempah ini ada dua macam Nak, rempah kering dan rempah basah.” Nenek menjelaskan bahan.

“Unik itu Nek, ada rempah basah dan ada rempah kering. Maksudnya bagaimana Nek?” pertanyaan saya yang terasa semakin seru.

“Rempah Kering itu berupa ketumbar, sahang, kemiri dan cabe kering. Sedangkan rempah basah berupa jahe, lengkuas, kunyit.” jelas nenek.

“Adakah tambahan yang lain Nek?” Tanya lanjutan saya.

“iya Nak, ada. Di tambah santan kelapa dan gula merah agar terasa ada manisnya.

“Aduh.. pasti enak banget rasanya?” saya berkata kagum.

Sebenarnya saya ingin berbicara lebih lama lagi bersama Nenek. Nenek itu bernama Nia, beralamat tinggal di Sepakat. Setelah beberapa menit kami berjalan, datang seorang pria ya mungkin anak atau anggota keluarga dari nenek. Pria itu menjemput nenek pulang kerumah. Saya mengucapkan terimakasih kepada Nenek. Saya bersalaman sebelum berpisah. Nenek mengucapkan selamat, semoga sukses, dan dibarengi senyum tulus dari Nenek.

Saya terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di Masjid Al-Jihad. Saya melaksanakan sholat magrib berjemaah. Setelah selesai sholat, saya kepikiran untuk mewawancarai ibu-ibu yang ada di masjid itu. Namun tidak jadi, karena situasi yang kurang tepat, ibu-ibu cepat-cepat pulang karena ada urusan tertentu. Dengan rasa sabar dan optimis, saya yakin mendapatkan info. Saya terus berjalan sampai di wilayah Podomoro. Saya bertanya-tanya kepada orang-orang disekitar situ. Tetapi tidak ada yang tahu tentang masakan tradisional Melayu. Sambil berjalan kaki,  Bundaran di  Kota Baru telah saya lewati. Saya bertanya-tanya di beberapa tempat, masih belum dapat. Saya mencoba masuk Gang , mampir di tiga tempat. Namun saya belum ketemu orang Melayu. Separuh jalan saya putuskan untuk kembali ke jalan semula, yakni jalan Kota Baru.

Berjalan dan terus berjalan pantang menyerah demi mendapatkan info dan pengetahuan tentang masakan tradisional Melayu yang ada di kota Pontianak.  Sampailah Saya di jalan Prof. M. Yamin, tepatnya di seberang jalan yang ada minimarket Mega Mitra. Ada toko pakaian, saya mampir sejenak dan duduk di kursi panjang yang ada didepan toko pakaian itu. Setelah menarik napas dalam-dalam, pikiran segar lagi, semangat semakin kuat. Saya melihat seorang ibu pemilik  toko pakaian itu. Sepertinya orang Melayu, saya mengucapkan salam dan segera masuk ke dalam toko pakaian itu.

“Assalamualaikum Bu, maaf saya mau numpang bertanya tentang masakan tradisional Melayu yang ada di Kalimantan Barat?” tanya saya.

“Oh masakan Melayu. Yang ibu tahu itu pacri nanas.” jawaban pertama ibu itu.

“Bagaiman cara membuatnya Bu,”

“Bahan utamanya nanas, santan, di beri rempah ketumbar, jahe, kalau suka pedas pakai cabe, kalau endak suka masak biasa jak, terus bawang merah, bawang putih dan dikasi gula merah untuk pemanisnya” Jelas ibu itu.

“Kemudian Bu, yang berupa kue?” lanjut saya bertanya.

“Kue tradisional , cucur.” jawab ibu.

“Bahan-bahannya Bu?” tanya saya.

“Tepung beras dan gula merah”. ibu memberitahu bahan.

“Apa yang menjadi keunikan dari cucur itu Bu?” saya melanjutkan pertanyaan.

“Yang unik dari kue cucur itu, yakni pada bagian tepi yang bergerigi. Selain itu, ada kue blodar dibuat dari tepung terigu dan gula yang dikembangkan terkebih dahulu. Ketupat yang di bungkus daun kelapa biasanya dibuat pada acara tolak balak. Kemudian Lemang, terbuat dari beras ketan yang di taruh kedalam bambu lemang, diberi santan dan dibakar hingga matang. Kemudian lepat law, terbuat dari ketan. ” Papar ibu itu.

Itulah hasil wawancara saya bersama bu Fadhila. Saya mengucapkan terimakasih atas kesempatan meluangkan waktu beliau untuk saya bertanya-tanya seputar masakan tradisional Melayu.

Begitu banyak masakan tradisional Melayu yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan mesti kita ketahui dan kita lestarikan. Dari wawancara bersama dua narasumber, saya menjadi banyak pengetahuan tentang masakan tredisional Melayu terutama yang ada dan sering dimasak di Kalimantan Barat. Saya meminta maaf jika terdapat banyak kesalahan didalam penulisan hasil penelitian lapangan ini. Masih banyak lagi makanan tradisional Melayu yang tidak sempat Saya cantumkan karena keterbatasan waktu.

Saya merasa senang bisa mengenal masakan tradisional Melayu, semoga tetap ada dan dilestarikan oleh pemuda generasi penerus. Harapan saya semoga tulisan hasil riset tentang masakan tradisional Melayu yang saya coba ukir ini, walaupun tidak banyak, tapi bisa bermanfaat untuk para pembaca.


26. Pekan Bakti Mahasiswa

Hari dan waktu telah berlalu, dengan perlahan, tidak tertahan, dan maju kedepan. Yang telah dilalui sekarang, akan menjadi sejarah. Kenangan dan kisah hidup akan terus terekam didalam tulisan.    

Sekarang sudah delapan bulan saya berada di kota Pontianak, merantau untuk kuliah dan mencari pengalaman, niat ikhlas mengharapkan ridho Allah swt sertamembuat orang tua bahagia.

Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, setiap tahunnya dan dikhususkan untuk mahasiswa baru, sebagai lanjutan sekaligus penutup dari kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK).

PBM berbentuk pengabdian kepada masyarakat, sebagai pengenalan untuk mahasiswa baru. Dengan memanfaatkan waktu yang hanya berlangsung  seminggu, maka diharapkan para Mahasiswa dapat memberikan manfaat sebaik mungkin pada masyarakat, serta menjalankan tri dharma perguruan tinggi, yakni mengabdian kepada masyarakat. Bisa dikatakan PBM ini seperti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) namun berbentuk mini atau semi KKL.

18 Februari 2014 panitian PBM mengadakan tehnikal meeting (TM) di ruang akademik lantai 4, atau dikenal juga dengan gedung rektorat. Kami mendapat pengarahan dan pembekalan dari panitia Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) 2014.

Panitia mempresentasikan profil desa dan posko yang akan kami tuju. Sehingga kami mendapat gambaran, serta apa-apa saja yang akan dilaksanakan. Dengan semangat bercampur bingung, karena masih pengalaman pertama.

Terbagi menjadi 23 posko dari 400 peserta. Saya terdaftar di posko 17 sekaligus terpilih menjadi ketua kelompok, sungguh itu menjadi pengalaman pertama untuk saya menjadi pemimpin kelompok kegiatan di desa. Anggota saya ada 18 orang dari berbagai jurusan. Sejak hari itu, mereka terdaftar dan menjadi keluarga baru saya.

20 Februari 2014, Hari yang ditunggu-tunggu, pemberangkatan peserta PBM 2014 akhirnya tiba juga. Pukul 06.00 wib, peserta dan panitia PBM berkumpul di Alun-alun Kapuas atau yang dikenal Korem. Kami berkumpul pada kelompok masing-masing, sambil menerima pengarahan dari dua mentor yang akan menjadi pendamping kami selama PBM.

Satu persatu dari 23 kelompok memuat perlengkapan dan barag-barang yang akan dibawa. Dari setiap kelompok,kami hanya diperbolehkan membawa dua sepeda motor.

Pukul 08.00 wib, kami berangkat menggunakan Kapal Bukit Raya 1, saya dan kawan-kawan mahasiswa baru, berangkat dari dermaga Kapuas menuju Kecamatan Sungai Ambawang. Semangkin jauh, semakin kecil jarak pandang kami  melihat Korem. Kapal semakin melaju. Kami berdoa untuk keselamatan mencapai tujuan.

Sebenarnya bisa melaui jalur darat dan lebih cepat, namun kami menggunakan jalur laut, karena banyak barang yang kami bawa, sebagai perlengkapan kami selama PBM.

Didalam kapal, selama perjalanan, banyak yang dilakukan kawan-kawan, ada yang membaca buku, melihat pemandangan, mendiskusikan rencana kedepan, membuat catatan kecil, bermain kamera dan mengambil suasana di kapal dan sekitar, ada yang mengantuk, ada yang mabuk laut karena tidak terbiasa naik kapal laut, mungkin inimerupakan pengalaman pertama kawan-kawan yang belum pernah naik kapal laut. Seru sekali !

Perjalanan lumayan lama, sekitar empat jam. Cuaca terasa sangat panas, gerah, dan haus, kami rasakan. Al Badrun teman satu kelompok saya merasa kelaparan, sebab ketika berangkat tadi, ia tidak sempat sarapan.

Pukul 12.00 wib, kami sampai di dermaga pertama, kemudian kami lanjut lagi menaiki kapal yang lebih kecil untuk menuju posko.

Pukul 12.30 akhirnya kami sampai di posko yang terletak di dusun Belidak desa Pasak Piang. Desa tersebut berada di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Sungguh Desa yang damai dan tenteram, terasa suasananya yang sangat indah, dihiasi oleh pemandangan dan suasana desa yang masih sejuk. Pohon-pohon kare berdiri tegak di sekeliling kami, beserta pohon kopi, pohon sawit, dan singkong yang merupakan matapencarian warga di daerah ini.

Malam harinya, kami mengikuti acara tahlilan di rumah Pak Kholiq, sekaligus pembukaan dan menyampaikan tujuan kami ke desa pasak piang kepada masyarakat yang hadir di dalam acara tahlilan tersebut. Kata sambutan yang pertama dari tuan rumah, Bapak Kholiq, kata sambutan yang kedua dari mentor 17, Kanda Lutfi, dan ditutup dengan doa oleh bapak Haji Musieh selaku tokoh agama di desa Pasak Piang. Kami melanjutkan breaving atau rapat kecil di mushola Al-muttaqin, membahas agenda untuk kegiatan esok siang.

Dari segi cuaca, saat itu sedang kemarau, menyebabkan anggota kelompok kami kesulitan untuk mencari air bersih. Hal tersebut menjadi salah satu kendala, kawan-kawan sesekali mengeluh dan ingin cepat pulang. Namun dengan adanya rasa kebersamaan kelompok dan saling memotivasi antar teman sekelompok, tumbuhlah rasa dan keinginan untukmengabdikan segala sesuatu yang bisa di berikan kepada masyarakat.

21 Februari 2014, hari kedua, kami melakukan sosialisasi. Kami di bagi menjadi empat kelompok. kelompok pertama,saya, Ilham, Fitri dan Jamilah Pergi ke rumah pak RT, menanyakan seputar profil desa, sosial dan budaya. Kelompok kedua Andri, Fadlania, Shelly, Aisyah, Suci menemui kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Muttaqin, menanyakan tentang profil sekolah. Kelompok ketiga, Nahrudin, Al Badrun, Mauliana dan Rahmadani pergi ke rumah pak dusun, menanyakan seputar ekonomi masyarakat dan peta lokasi. Dan kelompok yang keempat, Dendy, Huda, Yadi, Nanda, dan Dita pergi ke rumah Tokoh Agama. 

Kemudian kami ke masjid yang berada di dekat posko 18 untuk melaksanakan sholat jumat. Setelah sholat jumat kami menuju ke rumah Pak Kholik, menghadiri undangan tahlilan. Selesai tahlilan, saya dan kawan-kawan kembali ke posko 17.

Malam harinya, saya dan kawan-kawan mengajar ngaji. Sungguh asyik, saya jadi teringat saat di kampung, melihat para santri yang rata-rata masih anak-anak, persis seperti santri saya di kampung, santri-santri yang saya tinggalkan untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Di kampung, saya mendapat tugas untuk membantu guru ngaji mengajar di MI Miftahul Ulum, desa Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara.

Para santri di dusun Belidak cerdas, cepat paham ketika di ajari. Mereka sudah bisa membaca dengan lumayan lancar.

Setelah mengaji, adik-adik dan kami saling berkenalan, cara bicara mereka kepada kami sangat lucu. Ada yang masih terbawa-bawa bahasa daerah. Setelah itu, saya dan kawan-kawan PBM memperkenalkan diri dan tujuan ke desa Pasak Piang.

Mengaji dan perkenalan sudah, adik-adik pulang kerumah masing-masing, dan kami kembali ke posko, untuk makan malam. Lanjut breaving dan tidur malam.

22 Februari 2014, hari ketiga, saya dan kawan-kawan melaksanakan bakti sosial. Kawan-kawan yang cewek membersihkan mushola, sedangkan kami yang cowok, membersihkan rumput yang ada di jalan dan di parit, yang kondisinya sangat kering, karena musim kemarau.

Setelah dzuhur, kami mengajar di sekolah MI Al-Muttaqin. Sungguh miris dan muncul rasa sedih di hati saya, ketika melihat kondisi ruang belajar. Dimana dalam satu ruang di tempati oleh dua kelas. Ada tiga ruangan, sedangkan untuk Taman Kanak-kanak (TK) di posisikan di Mushola. Tidak ada kantor dan perpustakaan.

Tapi, semangat para siswa sangat kuat, kekurangan sarana dan prasarana tidak menurunkan niat mereka untuk menempa ilmu, meraih masa depan yang cemerlang. Mereka disiplin, datang selalu awal dan sholat berjamaah di mushola.

Cara membaca, menulis dan berhitung, mereka sudah bisa. Mereka harus terus dididik dan di kembangkan bakatnya. Secara seni, mereka sangat percaya diri, ada yang bisa menari dan melantunkan sholawat.

Merekalah yang akan menjadi generasi penerus kedepan, memajukan dusun Belidak desa Pasak Piang. Selain mengajar, kami juga menyampaikan pesan-pesan kepada para siswa untuk motivasi kedepan.

Di sela-sela mengajar, kami menyampaikan informasi seputar lomba yang akan kami adakan, selama tiga hari di MI Al-Muttaqin. Siswa-siswi mendengarkan dengan seksama dan menyambut dengan antusias yang besar. Mereka lansung mendaftarkan diri sebagai peserta lomba. Malam harinya kami mengajar ngaji.

23 Februari 2014, hari keempat, agenda kami, bakti sosial. Kali ini kami menggali sumur di samping mushola Al-Muttaqin. Kemudian kami silaturahmi kerumah warga. Kami disambut dengan sangat ramah. Antara kami dan warga, saling berbagi cerita. Kami menanyakan semua aktivitas warga. Manyoritas dari mereka bekerja dan berpenghasilan dari berkebun karet. Kemudian sawit, serta ada yang membuat parang.

Kami mampir ke rumah nenek yang bernama Marina, usianya seratus lebih, namun terlihat masih kuat dan masih bisa bekerja menoreh karet. Memiliki tiga anak, anak yang tua kerja di arab sebagai TKW, sudah 13 tahun tidak pulang, anaknya hanya mengirimkan uang kepada nenek Marina.

Salah satu dari temanku bertanya kepada nenek, adakah resep awet muda. Si Nenek hanya tertawa, dan menjadi terhibur dengan pertanyaan kami yang berupa candaan tersebut.

Siang harinya, kami mengajar ke madrasah. Malam harinya ngajar ngaji seperti biasa. Di lanjutkan dengan rapat kecil sebelum menuju pulau seribu mimpi alias tidur.

24 Februari 2014, hari kelima. Setelah olahraga, kami dari kelompok 17 pergi  silaturahmi ke kelompok 15, dengan berjalan kaki sekitar 40 menit. Pulangnya kami memetik pakis/paku untuk makan siang. Sejak lama hidup di kota, sudah lama saya tidak makan sayur pakis.

Setelah dzuhur, di sekolah, kami melaksankan perlombaan, dengan cabang lomba adzan dan tartil. Para peserta dengan sungguh-sungguh dan semangat mengikuti perlombaan.

Setelah Ashar, kami melaksanakan baksos, membantu warga memperbaiki jembatan. Malam harinya mengajar ngaji, dan breaving.

25 Februari 2014, hari keenam, kami menyelesaikan pembuatan plang. Bakti sosial. Membuat persiapan untuk layar tancap, untuk nonton bersama warga. Siag harinya melanjutkan perlombaan, dengan cabang lomba hafalan surah pendek, bacaan sholat dan menggambar. Hanya lima cabang lomba yang kami adakan, dan  semuanya selesai dengan lancar.

Setelah itu, kami sosialisasi kepada warga untuk nonton layar tancap bersama. Biasanya di kampung Belidak, kalau ada layar tancap, memang ramai yang datang, bahkan ada warga yang memanfaatkan waktu tersebut untuk berdagang cemilan, makanan dan minuman. Seperti ada dangdutan gitu, hehe.

Sebelumnya, kami mengajar ngaji terlebih dahulu, karena acara nontonnya dilaksanakan setelah sholat Isya. Sekitar pukul 19.45 wib, para warga sudah berdatangan ke halaman madrasah, tempat layar tancap. Kami memutar film Mestakung (semesta mendukung) dan film sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda. Sampai pukul 23.00 wib. Nobar pun selesai.

26 Februari 2014, hari ketujuh. Pemasangan plang nama sekolah. Mengajar dan berfoto bersama siswa. Kami berkemas-kemas untuk malam penutupan. Saya pergi meminjam sound system kerumah warga, setelah itu kami membuat panggung sederhana. Dengan semangat, akhirnya selesai juga persiapan untuk malam penutupan.

Malam penutupan diisi dengan berbagai macam rangkaian acara, sambutan dari  perwakilan warga, kemudian sambutan dari peserta PBM, pada saat itu saya yang mewakili, sekaligus berpamitan.

Dilanjutkan pengumuman pemenang lomba dan pembagian hadiah. Serta pemberian kenang-kenangan untuk MI Al-Muttaqin. Walau sangat sederhana, mamun momen yang sangat berkesan itulah yang tidak akan pernah terlupakan.

Akhirnya semua rangkaian acaraselesai, kami salam-salaman bersama para warga dan murid-murid. Tidak terasa sudah seminggu kami di desa Pasak Piang dusun Belidak, air mata kami pun menetes. Ketika bersalaman dengan nenek,kami meminta maaf jikalau ada salah dan tingkah kami yang tidak berkenan di hati warga.

Pekan Bakti Mahasiswa yang berjalan selama satu minggu di Dusun Belidak, Desa Pasak Piang berjalan dengan lancar. Berbagai agenda terlaksana, sebagaimana  tertera didalam lampiran. Satu minggu terasa cepat, ada salah satu warga yang memberikan paparan dan menginginkan kami peserta PBM berada di desa tersebut lebih lama lagi, karena warga merasa ramai dan ada kegiatan nyata yang dilakukan oleh mahasiswa.

Menjadi pengalaman pertama, bagi kami mahasiswa baru semester 1 dari berbagai jurusan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak. Kegiatan PBM ini menjadi gambaran kecil, seperti apa keiatan terjun kepada masyarakat, yang suatu saat nanti akan kami rasakan setelah semester akhir, atau yang di kenal dengan Kuliah Kerja Lapangan.

Di desa Pasak Piang, Kami bisa merasakan indahnya pemandangan, udara dan keadaan sosial, panorama pedesaan yang berkesan. Kami bisa mandi di sungai, bersama adek-adek yang lucu-lucu di desa itu. Ada yang meloncat dengan semangat dari atas jembatan lalu terjun ke sungai tanpa rasa takut dan melepaskan semua beban yang ada di pikiran.

27 Februari 2014, hari terakhir kami di dusun Belidak dan bersiap-siap untuk pulang. Setelah sholat subuh, barang-barang kami sudah selesai dikemas. Mentor menyuruh kami berkumpul. Bersama tuan rumah, kami mengucapkan ucapan terima kasih atas pemberian tempat yang sangat bermanfaat bagi kami.

Berlinang air mata istri pak Hodi, yang sudah menganggap kami seperti anak sendiri, dan seminggu berada di desa tersebut. Sungguh akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Terima kasih pak Hodi dan keluarga. Maafkan kami jika terdapat salah.

Kami memberikan kenang-kenagan kepada pak Hodi dan keluarga. Kami berjanji akan datang kembali pada lain waktu dan kesempatan yang di berikan Allah swt, nikmat sempat dan sehat, amin. Sebelum berangkat menuju dermaga, kami berfoto bersama di depan teras rumah pak Hodi.

Terima kasih Dusun Belidak, Desa Pasak Piang, yang dengan ramah menyambut kedatangan kami sebagai mahasiswa yang ingin mengabdi, menjalankan salah satu tri dharma perguruan tinggi dalam agenda Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) IAIN Pontianak 2014.


27. Terbayang Orang Tua

Pagi hari, 07 April 2014,  saya bersama Bang Hanafi pergi ke kantin kampus. Kami memesan nasi seharga Rp. 6000 dan es teh dengan harga Rp. 2000 . Ada beberapa orang yang duduk, ngobrol dan makan. Banyak dari mereka merupakan mahasiswa Pasca Sarjana, Jurusan Tarbiyah IAIN Pontianak.

Sambil menunggu para pelayan kantin menyiapkan makanan. Saya mengambil satu exemplar koran yang tergeletak di kursi, tepat di samping saya.

Saya membaca beberapa berita, salah satunya berita terbunuhnya seorang gadis oleh pacarnya. Dia pelajar SMA kelas X, mungkin ada sang cowok mengidap kelainan jiwa, tega-teganya membunuh sorang perempuan, pacarnya pula. Saya merasa kasihan dengan korban. Saya berhenti sejenak. Nasi saya sudah tersaji di hadapan saya, kasian si nasi menunggu lama, ia tampak cemberut, jadi saya minta maaf dan tersenyum, hehe.

“Di, makan lok” tegur Bang Hanafi.

“Iya Bang, bentar lagi lah, saya mau baca Koran  ini, tanggung” jawab saya dengan melihat nasi itu sebentar.

Setelah selesai membaca koran, saya langsung menarik piring yang berisi nasi putih, telur goreng, sayur nangka dan sambal. Murah meriah dan mengeyangkan. Saya minum sedikit teh es, sungguh segar, membuat jiwa dan raga fresh kembali.

Di sela-sela makan, pikiran saya terbayang dengan kedua orang tua saya di Kampung.  Orang tua yang sangat saya sayang, berkat perjuangan dan jerih payah,  mengasuh dan mendidik saya dengan penuh kesabaran.

“Jam segini, ibu dan bapak masih di kebun” kata yang terucap dari mulut saya dengan pelan, dengan suasana hati penuh kerinduan. “Jam segini, ibu dan bapak belum makan, mereka bekerja keras” hati saya semakin rindu, air mata saya rasanya ingin menetes.

Saya sedih, saya belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Saya terus berusaha untuk yang terbaik dan membuat mereka bahagia.

Akan saya ingat selalu pesan-pesan mereka, yang menjadi tonggak motivasi dan tameng untuk menjaga diri di kota Pontianak yang penuh tantangan ini. Mereka tahu dan yakin, saya berangkat ke Pontianak untuk kuliah, mencari ilmu dan pengalaman.

Suatu saat nanti, saya yang akan menggoreskan senyuman di wajah mereka. “ Pak, Bu, saya menyayangi kalian”. 


28. Pulang Kampung

Setelah kurang lebih delapan bulan di kota Pontianak, akhirnya saya bisa pulang kampung ke Teluk Batang. Sayamendaftar kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, yang pada tanggal 1 April 2014 diresmikan olehKementerian Agama Republik Indonesia dan beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.

Sekarang saya sedang kuliah semester dua Jurusan Dakwah, Progam Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), sungguh asyik di jurusan KPI bersama teman-teman yang baik hati di kelas B.

Sayamendapat kesempatan pulang untuk mengikuti kegiatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 6  Dusun Karya Maju, Desa Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara.

Saya bersyukur, bisa bertemu keluarga tercinta yang sudah lama tidak bertemu, terutama ibu yang sudah tidak sabar lagi ingin saya temui. Setiap kali ditelepon, beliau menanyakan kapan saya pulang. Kalau tidak sempat pulang, ibu bertanya kepada saya yang berada di kota Pontianak, apakah uang saya masih ada, apakah beras masih ada, dan yang lain-lainnya.

Ketika pulang ke kampung, saya sudah merasakan ada banyak perubahan, pertama dari segi jalan raya, yang sudah mendapatkan perbaikan, dan sekarang didepan rumah sudah diaspal.

Pada masyarakat, ada yang mulai berkurang, salah satunya meninggal dunia, ada yang saya tidak dapat kabar wafatnya orang tersebut. Baru saya ketahui ketika saya pergi ke rumah tetangga saya yang sedang yasinan, saatsayamendapat buku Yasin, ada fotonya di sampul depan. Pak Dusun pun sudah berganti masa jabatan, sekarang yang menjabat sebagai Kepala Dusun, Pak Suryadi.

Ada yang usianya jauh dibawah saya, sudah menikah. Ada juga yang menikah lagi, walau sudah punya istri. Ada temanku yang baru pulang dari Timur Tengah, bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW), banyak perubahan dari fisiknya, sampai-sampai saya tidak mengenalnya.

Itulah perubahan-perubahan didesa saya, dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan.

Alhamdulillah, masih bisa berkumpul dengan keluarga dan warga desa yang ada di Sukamaju. Walau saya harus menyesuaikan suhu dan air lagi di kampung saya, sperti halnya pertama kalisaya ke kota Pontianak, butuh waktu lebih dari sebulan untuk menyesuaikan suhu di sana.

Malam Kamis, saya pergi kerumah Nek Sena, seorang yang pandai ngurut. Saya kesana untuk mengecek urat yang pegal-pegal dan takut ada yang konslet, maklum di kampus banyak bergerak, apalagi suka turun naik tangga ketika semester satu. Kemudian saya pernah terjatuh dari sepeda motor.

Kebaikan dan rasa sayang ibu pada saya tidak diragukan lagi, begitu juga dengan bapak, abang dan adikku yang gokil itu. Masakan dirumah banyak sekali dihidangkan, sampai-sampai saya tidak mampu menampungnya lagi. Mungkin karena  kalau di kota, keseringan  saya hanya makan satu kali, bukannya tidak punya uang, tapi sempatnya hanya segitu saja.

Hari kamis pagi, saya ke pasar Teluk Batang untuk berbelanja celana kain panjang, karena saya hanya punya satu celana yang bagus dan sudah lumayan kumal, hehe. Warna hitam pekat, yang saya beli sekarang warna cokelat muda, dan sedap dipandang, serta sejuk ketika digunakan, menambah koleksi celana panjang saya, dua.

Kemudian saya membeli sepatu warna cokelat, karena sepatu yang saya bawa dan biasasaya pakai sudah rusak, pada bagian telapaknya sudah mulai menipis. Kasian sepatu saya, tapi akhirnya sekarang saya punya sepatu baru lagi.

Saya teringat ketika semasa sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, bapak selau menemani dan mengantarkan saya mengikuti perlombaan, dan itu menjadi semagat tersendiri.

Hari ini, Jum’at 11 April 2014, saya akan melaksanakan sholat Jumat di masjid Nurul Ma’rifah, yang sekarang sudah menampakkan perkembanganya, dari sudut bangunan, semakin indah, berbeda saat dulu, sekarang warnanya semakin kinclong, saya terpana melihatnya, Subhanallah, saya kangen dan terabayang dengan anak-anak murid saya dulu.

Berbicara tentang ngajar ngaji, saya teringat dengan guru ngaji saya, yang sabar meluangkan waktunya untuk saya dan kawan-kawan yang lain agar bisa mengaji. Beliau bernama Ustad Rasem, berkat beliau juga yang selalu mensuport saya untuk tetap semangat dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Ustad Rasem sering mampir ke rumah saya, ketika beliau pulang bekerja dari kebun karetnya. Beliau selalu memberikan nasihat serta masukan yang membangun. Rencana saya hari ini, setelah sholat Jumat, saya akan mampir ke rumah beliau, kangen dan ingin salaman sekaligus minta restu sebelum berangkat ke Pontianak lagi, pada hari Minggu besok.


29. Teman Curhat

Malam ini, pukul 21.50 WIB di ruang sekretariat Remaja Mujahidin, saya menorehkan tinta di atas kertas putih. Ingin curhat  berbagai hal yang saya rasakan, lihat, baca, dengar dan sesuatu yang saya kerjakan.

Teman curhat (curahan hati) saya ialah menulis.  Mengapa saya memilih menulis?, menurut saya, menulis itu cara yang paling efisien untuk menuangkan dan melimpahkan segala hal yang ada di hati. Mengatakan semuanya dengan bebas dan luas.  Tanpa tekanan dan paksaan. Bicara lepas, selepas-lepasnya.

Tidak salah jika kita curhat dengan orang lain, kita pun makhluk sosial. Saling membutuhkan nasihat, untuk melihat diri sendiri. Namun curhat juga akan menambah beban pikiran bagi orang lain. Sebab orang yang mendengarkan curhatan kita akan berfikir dan mencari jalan keluar tentang masalah yang kita hadapi, sedangkan orang tersebut juga memiliki beban pikiran dan masalah lain.

Setelah menulis, saya pribadi merasa lega dan nyaman. Jika lama tidak menulis, jujur menciptakan rasa rindu, terasa meninggalkan kewajiban.  Menulis itu memang asyik, dan tidak mengganggu orang lain. Mengajak pikiran untuk maju dan memikirkan hal kedepan. Berusaha untuk tidak berdiam santai. Boleh memang kita santai, namun jangan sampai  larut dengan kesantaian. Kecuali santai tapi pasti, pasti ada karya.

Bagi saya, menulis menjadi kebutuhan pokok, seperti makan, minum, tidur dll. Menulis sudah menjadi pekerjaan, bisa untuk kebutuhan lahir dan batin. Kebutuhan lahir, dengan tulisan saya bisa mendapatkan uang untuk membeli makanan dan minuman. Kebutuhan batin, saya bisa lebih segar, setelah menuangkan kata-kata yang ada di pikiran saya, daripada numpuk dan tumpah, lebih baik saya tuangkan . jadi saya berkomunikasi tidak hanya dengan verbal, juga berkomunikasi melalui tulisan.

Bapak Aspari Ismail, penulis buku “Menulis Nikmat di Atas Batu”, beliau  berpesan kepada saya, “menulislah maka kamu akan bahagia”.

Bahagia menurut pandangan saya, ialah bekerja dan memanfaatkan secara maksimal,  melalui proses yang benar, dan mensyukuri yang didapat.

Jadi, mulai detik ini, langsung saja anda mengambil pulpen dan kertas, tulis semua curhatan yang ada didalam hati anda. Tumpahkan, jangan ragu dan takut. Hanya orang berani yang mampu membuka pintu kesuksesan. Mari menulis. (*)


30.#DariJadi 0-100

Ingin membuat film pendek termasuk di 100 mimpi yang saya tulis. Sebagai pemula di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, membuat film akan menjadi salah satu keahlian dari bidang studi yang saya tekuni. KPI di IAIN Pontianak sudah banyak mencetuskan lulusan yang berpeluang kerja di berbagai media dan perkantoran, baik negeri maupun swasta.

Bersama Nur Ummi Mufidah, mahasiswi Pendidikan Agama Islam (2013), saya membuat studio foto dan film, yang masih produksi kecil. Di bentuk pada tanggal 30 April 2014, dengan nama Galeri Enam Khatulistiwa (G6K).  Wanita yang akrab disapa Ummi MF ini, memiliki pengalaman  membuat film, ketika sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pontianak. Saya bersama Ummi MF, mendapat info lomba film pendek di  internet, pada pertengahan Juni. Ummi tampak bersemangat, saya pun semakin meledak, haha. Semua persyaratan dari lomba tersebut kami baca dengan seksama, dan hikmat.

Kami merancang skenario bersama, diskusi dijalani dengan baik. Saya akui, memang tidak mudah tapi bisa dikerjakan, dalam pembuatan skrip skenario film. Handycam, saya pinjam sama Bang Reza, salah satu karyawan IAIN Pontianak, di Laboratorium Micro Teaching.  Saya menggunakan komputer LPM.

Untuk setting tempat, kami menggunakan kampus IAIN Pontianak, kontrakan dan pasar Flamboyan. Pengambilan gambar di kontrakan Andri, mahasiswa Tarbiyah PAI (2013), di jalan Danau Sentarum. Berlangsung sekitar dua jam. Terasa begitu lelah, gonta-ganti pakaian. Saya menjadi pemeran utama, dan Ummi MF sebagai sutradara, kamerawati, dan menjadi aktris pemeran dosen psikolog.

Pengeditan berlangsung selama seminggu, dan rampung pada tanggal 12 Juli 2014. Dengan judul #DariJadi 0-100. Film pendek ini menceritakan seorang mahasiswa yang memiliki kebiasaan buruk, diantaranya bangun kesiangan, makan tidak teratur, tidak rapi, ujian mendapat nilai tidak baik. Setelah berkonsultasi dengan dosen psikolog, mahasiswa tersebut mendapat pengarahan, dan mengikutinya. Hasil yang dicapai ternyata memuaskan, menjadi mahasiswa yang semangat.

Kemudian kami lanjutkan dengan mempostingnya ke Youtube, selama dua hari, dari tanggal 13 sampai 14 Juli 2014, tapi gagal terkirim, kami sedikit kesal, tapi kami tidak menyerah, kami mengirim lagi, dari tanggal 15 sampai 16 Juli 2014, dan akhirnya berhasil. Proses upload ini kami lakukan di UKM LPM, pada bulan puasa. Selama dua hari ini, kami menunggu dua hal, menunggu upload selesai dan menunggu waktu berbuka puasa. Menunya tidak lain, es tebu.

 #DariJadi 0-100 ini, menjadi karya pertama saya bersama Ummi MF, dalam bentuk film pendek.

Hasilnya, kami belum beruntung. Karena pada event itu, ada banyak sekali peserta yang mengikuti lomba film pendek tersebut. Penjurian yang dilakukan pun sangat ketat dan melibatkan juri yang benar-benar ahli pada bidangnya. Selain itu, waktu perlombaan pun diperpanjang, jadi peseta yang mengikuti semakin banyak. Tapi tak masalah, bagi kami, yang penting kami memiliki sebuah karya yang diproses dengan sungguh-sungguh dan tak mudah. Menang atau kalah itu hal biasa. Kami pun tak terlalu ambisi, jadi, tak perlu kecewa.


31.Penjaga Parkir

Malam ini, malam pertama saya bertemu dengan bulan Ramadhan di Kota Pontianak. Saya bersyukur kepada Allah SWT, yang telah memberi nikmat sehat dan panjang umur, mengizinkan saya berpuasa pada Ramadhan ini.

Bersama Remaja Mujahidin dan Panitia Ramadhan 1435 H, saya bertugas menjadi penjaga parkir, menjaga kendaraan para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.

Menjadi tukang parkir, bahasa lebih sopannya itu penjaga kendaraan, ternyata tidak mudah. Kita harus memiliki skill  atau kepandaian dalam hal menata letak, mengatur kendaraan, menyampaikan perintah dan arahan dengan benar, selain itu, komunikasi yang baik pun harus dijaga antara penjaga kendaraan dengan yang memiliki kendaraan.

Tidak semudah yang dilihat, menjadi tukang parkir harus bisa menjaga kesabaran, serta mengontrol emosi. Salah satu kasus, ialah terjadinya pertengkaran mulut, ketika ada pengendara yang ngeyel dan tidak mengikuti intruksi.

Bagi para Parkirman pemula, hal ini sungguh membuat jengkel. Kalau terjadi hal demikian, ya kembali kepada komitmen yang saya sampaikan tadi. Berkomunikasilah dengan baik. Namanya juga manusia, selalu memikirkan hak dan enaknya saja. Sedangkan perintah sulit untuk mereka lakukan.

Saya jadikan momentum menjaga kendaraan ini sebagai pembelajaran, diantaranya dalam hal menata letak, kemudian memahami karakter orang yang berbeda-beda. Ada yang cuek, ada yang murah senyum, ada yang galak, ada yang ramah. Terasa unik.

Antara orang yang sayang dengan uangnya dan antara orang yang merelakan uangnya, itu terlihat jelas. Misalnya, ada yang menggunakan sepeda motor butut, tapi memberikan uang. Sedangkan yang membawa mobil mewah mengkilat, sebaliknya, hanya memberikan senyuman dan lambaian tangan semata. Tidak apa-apa, saya tidak akan menangis, kemudian pulang, saya akan tetap menjalankan tugas hingga tuntas. Kepada para tukang parkir, tetaplah ikhlas dan bersahaja. Salam maju mundur!


32. Mudik

Selasa, 22 Juli 2014 . Setelah sholat zuhur, Ummi MF datang ke sekretariat Remaja Mujahidin, menjemput dan mengantarkan saya ke dermaga Shenghi, Kapuas.

Hari ini saya mau pulang kampung. Karena lima hari lagi seluruh umat muslim akan merayakan Idul Fitri 1435 H. Saya menggunakan kapal motor Bone 1 dengan biaya transportasi Rp. 65.000 . Perjalanan Pontianak ke Teluk Batang berlangsung sekitar 16 jam, jika berangkat dari jam 2 sore, jam 6 pagi baru sampai.

Cuaca sangat panas. Di dalam kapal saya dan para penumpang lainnya berdesakan. Mungkin mereka memiliki jadwal yang sama seperti saya, yakni mudik. Selain berdesakan, saya juga merasa sepi, karena teman saya yang bernama Hanafi, tidak jadi ikut ke Teluk Batang, karena sedang dalam suasana berduka, neneknya meninggal dunia di Purun, Mempawah.

Saya berada di belakang kapal, berdekatan dengan WC, sedikit merasa mual dengan aroma orang yang berlalu lalang,  kondisi saya pun sedang berpuasa. Di dekat saya ada yang jual air minum dan makanan, rasanya perut dan kerongkongan saya tergiur, (sabar-sabar) hehe. Gelombang dan pemandangan sekitar terus saya tatap, untuk menghilangkan rasa penat dan kejenuhan. Ummi MF telah lebih dulu pergi dan meninggalkan saya. Ia tampaknya juga merasa mual dan pusing.

Sebelum kapal meninggalkan dermaga, ada penjual buah-buahan, dan penjual Koran, yang haya tersisa 1 exemplar. Saya membeli koran tersebut dengan harga Rp.2000 .

Saya membaca beberapa berita. Saya tidak membaca sendiri, koran tersebut saya tawarkan kepada seorang bapak yang berada di hadapan saya. Kami pun membaca dengan tenang, walaupun suasana tidak tenang sama sekali. Tak terasa, senja telah tiba, waktunya berbuka puasa. Saya membaca doa berbuka puasa, dan minum air yang saya beli ketika di dermaga Senghi tadi. Alhamdulillah, puasa lancar, perjalanan pun lancar.  Rasa hati ingin cepat sampai ke dermaga Teluk Batang, namun apa daya, kapal dan nahkoda yang membawa saya. Seandainya saya bisa, saya mungkin sudah terbang sendiri dan sampai dari tadi.

Malam membawa saya ke dalam mimpi, bersama dinginnya samudera. Badan saya terombang-ambing oleh ombak yang menerjang kapal kami. Tapi tak memengaruhi tidur saya yang nyenyak. Bagaimana pun keadaannya sekarang, yang penting, besok saya bisa bertemu dengan keluarga saya, InsyaAllah.


33.Perjuangan di Bawah Hujan

08 Agustus 2014

Sudah dua minggu saya berada di kampung halaman. Sejak tanggal 23 Juli 2014, saya pulang kampung dari kota Pontianak, liburan kuliah.

Aktifitas perkuliahan padat sekali, apalagi semester pertama, liburan semester  tidak bisa pulang kampung, dikarenakan ada kegiatan Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) ke sungai Ambawang selama seminggu. Kegiatannya seru dan menambah pengalaman. Pengabdian kepada masyarakat yang paling utama, setelah itu kembali ke Pontianak, dan beraktifitas di kampus kembali.

Liburan semester kedua ini lumayan lama, hampir tiga bulan. Awal liburan kemarin sekitar sebulan, saya isi kegiatan di Pontianak, karena bulan puasa, kegiatan paling dominan di masjid Raya Mujahidin. Saya termasuk salah satu anggota Remaja Mujahidin, yakni organisasi pengembangan potensi remaja islam, berdiri sejak tahun 1979. Saya angkatan 42, mengikuti pelantikan setelah leadership pada Juni 2014.

Di kampung, selain mengisi waktu luang bersama keluarga, saya juga bersilaturahmi ke tempat keluarga dan tetangga. Saya juga melanjutkan aktifitas ke kebun, menyadap karet,  mencari uang, untuk membayar daftar ulang semester 3.

Hari ini, saya bersama ayah pergi menyadap karet ke kebun yang berada di Sungai Baruk, sekitar pukul 6 kurang,  jam 7 lewat selesai. Saya pulang melalui jalan yang telah saya lalui sebelumnya, ketika berangkat ke kebun, saya melewati jalan Teluk Dungun. Jalannya sudah bagus dan rata, karena sering dilewati oleh mobil dan sepeda motor yang menuju tempat perusahaan sawit di desa Padang. Perjalanan ke rumah kalau menggunakan sepeda, membutuhkan waktu selama tiga puluh menit. Karet dibiarkan membeku di tempat, di dekat pohonnya. Tempat penadahnya dari tempurung kelapa.

Ada dua macam alat pencetak karet. Pertama, menggunakan tempat dari papan dan berbentuk panjang, sekitar 1 meter, di sebut Pak. Yang kedua, cetakannya menggunakan ember.  Air karet supaya membeku tidak boleh terkena air yang banyak, alias Hujan. Harga karet yang menggunakan cetakan nomor pertama lebih mahal dari pada cetakan yang kedua. Pertama berangkat, cuaca masih cerah, setelah hampir selesai, cuaca tiba-tiba mendung, tanda-tanda akan hujan.

Setelah pulang ke rumah, saya mandi. Namun cuaca semakin memburuk, hujan benar-benar turun. Saya cepat-cepat mengenakan pakaian kerja saya, Agar saya tampak profesional.  Jangan senyum-senyum, saya tidak pakai jas ala kantoran, tapi saya mengenakan pakaian khusus noreh, tapi keren, Hehe.

Saya mengambil sepeda, bergegas menuju kebun. Perjalanan terasa sangat pelan, padahal saya sudah mengayuh sepeda dengan sangat kencang, mungkin perasaan saya saja, karena terburu-buru ingin cepat sampai ke kebun. Lumayan bersemangat, seperti di arena balapan sepeda, hampir sampai kebun, anggap aja sampai finish, hujan pun turun mengguyur badan, brush..! dingin banget bray, disertai angin yang kencang, sepeda pun semakin tertahan oleh angin tersebut.

Akhirnya sampai di kebun. Hujan semakin deras, ditambah angin kencang,saya merasa sejuk,  pohon, dedaunan dan rerumputan bergoyang bersama gerakan saya, dramatis banget, bernostalgia dengan masa-masa kecil dan remaja saya di kebun karet.

Semua saya jalani dengan penuh semangat, untuk mencari nafkah dan biaya kuliah. Air hujan mengisi tempurung, mencampuri air karet, saya tuang tets demi tetes air karet dari tempurung itu ke dalam ember. Sedikit demi sedikit, ember yang tadinya kosong, akhirnya terisi penuh . Saya tersenyum, bersama air hujan yang membasahi. Saya pun ingin bernyanyi, basah-basah-basah-basah seluruh tubuh.. ah ah ah air karet.. (nada dangdut). Saya sambil berlari-lari kecil, takut hujan semakin deras. Di salah satu adegan, kaki saya tersandung diakar, tepatnya di jempol  sebelah kanan, Aduuuuh… terasa sakit banget.

Saya tertahan sejenak menahan rasa sakit itu. Untungnya air karet yang saya bawa tidak tumpah, kalau itu terjadi, semakin bertambahlah rasa sakit ini. Dan saya melanjutkan pekerjaan kembali, sekitar 45 menit, akhirnya pekerjaan saya selesai. Hujan reda, matahari pun terbit bercahaya terang. Saya pulang kerumah, dengan badan basah kuyup, namun ada hasilnya. Alhamdulillah, semangat!!! J


34. Daftar Ulang

1 September 2014

Pagi hari saya ke kampus, ingin melihat info kuliah. Salah satunya yakni daftar ulang. Saya memasuki semester 3. Biaya daftar ulang masih sama dengan semester 1 dan 2. Yakni Rp 1.335.000. Sekarang  ditambah lagi biaya sebesar Rp. 50.000 untuk pembuatan kartu KTM/ATM Bank KALBAR Syariah, cabang IAIN Pontianak, kartu tersebut juga bisa digunakan sebagai kartu perpustakaan IAIN Pontianak.

Kemudian di tambah lagi Rp. 30.000 sebagai biaya asuransi. Karena ini kali pertama, jadi belum berjalan aktif. Wakil Rektor (Warek) III IAIN Pontianak, bidang kemahasiswaan, DR. Zaenuddin pada rapat gabungan panitia OPAK 2014 (4/9), beliau memaparkan bahwa biaya tambahan RP. 80.000 itu tidak wajib, namun sunnah muakkad, sunnah yang sangat dianjurkan. Alasannya, kita yang sudah beralih status menjadi IAIN, sudah tentu tidak ingin ketinggalan dari  kampus lain yang sudah maju, transaksinya serba digital.

Ya, setidaknya ada perubahan, dari KTM yang biasanya lembek, hanya menggunakan kertas HVS, mudah terlipat, mudah rusak. Dengan adanya biaya tambahan ini, KTM IAIN Pontianak berbentuk seperti kredit card, keras dan tahan lama.

Saya sebagai mahasiswa, berharap yang terbaik. Program dari lembaga ini, saya harap bisa membantu dan menciptakan mahasiswa bersemangat, serta merasa nyaman melaksanakan proses belajar mengajar dan kegiatan lainnya di kampus  IAIN Pontianak. Bagi mahasiswa yang masih kebingungan dengan prosedur baru ini, saya rasa perlu waktu dan sosialisasi yang lebih baik lagi dari lembaga, sehingga semua warga IAIN Pontianak, bisa menemukan informasi yang jelas, Semoga.*

Link: http://IAINPTK.ac.id


35. Bingung

Bingung, saya ingin kerja. Yakin nanti akan ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan.

Saya merasa bingung disaat sekarang, mau ngapaian ya ? jadi pengangguran, pekerjaan gak ada, terasa kosong banget. Aktifitas kuliah dan ikut lembaga organisasi. Kegiatan tersebut juga bermanfaat menurut saya, daripada diam-diam saja. Tidak ada sesuatu yang bisa diciptakan.

Saya ingin sekali punya pekerjaan, walau tidak tetap, ya setidaknya ada pekerjaan. Tapi saya masih bingung dengan waktu kuliah. Belum bisa membaginya. Saya berpikir keras untuk mampu dan berani terjun ke dunia kerja.

Saat ini, hati saya sangat bingung. Mau curhat dengan siapa juga, saya tidak mau menambah beban mereka. Saya tau bingung ini, adalah satu cara dan jalan untuk saya berpikir lebih kuat dan jernih. Saya harus berubah. Triiing… !!! berubah! Suasana tiba-tiba gelap dan terang kembali, apa terjadi? Ternyata saya masih celeng manes (hitam manis). Ciee …

Saya, ya saya, kata mereka saya ini orangnya ceria, dan bisa menghibur. Namun di belakang mereka, saya sering sedih dan muram (Hiks). Saya seakan-akan menyembunyikan, tapi itulah saya, ingin orang lain bahagia, walau saya terluka (Hiks lagi).

Di dalam kebingungan ini, saya yakin ada jalan yang cerah, ada cahaya. Mencari dan terus mencari, jangan menyerah, tetap semangat. Pelan-pelan, jangan cepat menyerah. Semua membutuhkan proses. Proses lebih penting daripada hasil. Jika prosesnya baik, kemungkinan besar hasilnya baik. Berpikir positif dan bismillah, melangkah dengan semangat dan hati-hati, banyak tikungan, harus tetap teliti. Saya harus semangat untuk mengobati dan mencari jalan keluar kebingungan ini.

Untuk berpikir ke depan, bingung akan menyelimuti, bingung meminta otak kita berpikir lebih jelas. Namun hati dan iman harus tetap dijaga, agar apa yang kita pikirkan tetap jernih. Walaupun berani kotor itu baik (Red: Rinso).

Jangan muluk-muluk berpikir akan sesuatu yang besar, memikirkan diri sendiri saja masih terasa rumit. Namun saya memiliki kata bijak, berpikirlah akan sesuatu yang luas, agar kamu mampu didalamnya. Hapus kebingungan sekarang juga!

Tapi ya sudahlah. Jika terus tenggelam dalam kebingungan, kita tidak akan tenang. Semua ini saya serahkan kepada Allah SWT, yang maha mengetahui dan pemberi jalan.


36. Ngajar Ngaji

Kebingungan saya kemarin, akhirnya terjawab dan doa saya dikabulkan Allah SWT. Saya yang bingung mencari pekerjaan. Akhirnya ada teman, yang bernama Resiyanto, menawarkan pekerjaan. Yakni ngajar ngaji privat di Jalan Karimata.

Saya merasa bahagia. Setidaknya sudah ada jalan yang lurus. Pintu telah terbuka. Sekarang saya harus berusaha untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Ini selain kerja, juga berbagi ilmu. Karena manusia yang bermanfaat itu ialah manusia yang bisa berguna bagi manusia lain. Ilmu yang bermanfaat juga ilmu yang bisa diajarkan atau disalurkan. Bukan hanya disimpan sendiri.

Saya jadi teringat ketika saya kecil dulu. Orang tua saya sangat mendukung, di dalam berkarya dan menuntut ilmu. Siang harinya saya sekolah, dan pada malam harinya saya mengaji. Dari kegiatan keseharian saya itu, saya ingin menjadi tenaga pengajar, yang siang mengajar di sekolah dan kalau malam mengajar ngaji.

Ketika kelas 3 SD saya ngaji ke pak Ustad Solehudin. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, pada judul “Mengaji”.

Awalnya tawaran mengajar ngaji privat, tidak langsung saya konfirmasi, karena saya masih bingung dengan kendaraan. Karena saat itu, saya tidak memiliki kendaraan pribadi. Adanya kendaraan dinas, mobil. Itu pun mobil yang di parker di Mujahidin. Tempatnya lumayan jauh kalau saya berjalan kaki dari Mujahidin menuju jalan Karimata.

Saya pun mencoba mencari  sepeda bekas. Saya tanya teman-teman di facebook. Ada konfirmasi, dan saya masih ragu.

Saya juga posting sms. Ada Bang Alimin yang menyarankan, mencari sepeda bekas di pasar loak. Kemudian saya menghubungi teman, Robiyanto, ketika semester 2 kuliah di IAIN Pontianak, ia menawarkan sepedanya. Namun saya belum tertarik dan mikir lagi, karena tidak terlalu jauh dari Mujahidin ke IAIN. Berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 15 menit. Dan setelah di hubungi, di semester 3, sepeda si Robi sudah dikembalikan ke kampungnya. Ya saya belum beruntung. Silakan coba lagi.

Saya tidak patah semangat. Saya masih mencari cara. Dan saya sms si Ummi MF, sahabat baik. Dia memberikan saran, “ambil aja kerjaan ngajar ngajinya. Masalah kedepan bisa diatur, seperti menyesuaikan jadwal perkuliahan”. Si Ummi MF juga mengajar, dia mengajar les privat. Dan tempatnya masih searah, di Gang Belibis.

Setelah banyak pertimbangan, hati saya pun mengatakan “ Mau ”. Tidak boleh membuang kesempatan dan peluang. Itung-itung menambah pengalaman dan pengetahuan.

Akhirnya saya konfirmasi kepada Bang Resi, “ Saya mau Bang ”. Terima kasih atas dukungan Ummi MF yang ia berikan kepada saya. Yang penting ada kerjaan halal. Niat dan fokus. Semoga lancar, amiin.


37. This is for *Kakeh (*Kamu)

Saya mau berbagi cerita. Cerita ini buat kamu, this is for you, karena saya Male alias Madura Bule,  redaksinya menjadi, This is for *kakeh (*Kamu).

Pagi yang penuh semangat, saya bersih-bersih sekretariat, tempat saya tinggal. Ya sebut saja rumah. Mengapa dikatakan rumah. Kata kuncinya itu  “tempat tinggal”, kalau untuk binatang “kandang”, karena saya manusia, ya betul, saya manusia, coba lihat di profil, atau yang pernah lihat saya, pasti bilang kalau saya ini manusia. Kalau ada yang bilang saya bukan manusia, akan saya tunggu di jalan yang biasa kalian lewati, bukan mau ngapa-ngapain sih, saya cuman mau nebeng, saya jalan kaki bro, hehe.

Jadi, karena saya manusia, tempat tinggal saya di rumah. Setuju? Udah setuju aja. Biar gak panjang lebar. Haha.

Walau pun ruangan ini, hanya berbentuk ruangan luas, tidak terdapat sekat atau tembok pembatas,  seperti kamar, ruang tamu, dapur, dll. Namun ruangan ini,  tetap saya katakan rumah. Karena aktifitas umum yang saya lakukan disini, ada di rumah. Silakan cek, kalau anda masih ragu.

Ayoo.. apa saja ???

Yakni makan. Wah langsung ke hal makan. Memang kalian ini, makhluk pemakan. Eatenvora, entah darimana berasal kata-kata itu, tiba-tiba muncul kosakata baru di otak saya. Bagi anda yang ingin menggunakan kata-kata baru dari saya, silakan. Rapopo, sebagai referensi, tapi maaf jika tidak diakui oleh kamus besar lainnya.

Lanjut...!

Ya benar, didalam ruangan ini ada aktifitas makan. Aktifitas memasak juga ada didalam ruangan ini. Peralatan masak, seperti kompor, panci, ricecooker, dan lain-lain ada di sini. Peralatan makan, piring, sendok, gelas , lesung dll, ada di sini. Kemudian bahan-bahan makanan, dan bumbu masakan juga ada di sini. Beras, bawang merah, bawang putih, terasi, merica, garam, ikan asin satu toples, air galon, yaa kadang-kadang kosong, tinggal galonnya aja, gula, dll ada disini, silakan jika anda membutuhkan datang ke sini, haha seperti toko sembako ya bro.

Kemudian aktifitas rumah apa lagi? Coba anda sebutkan!

Yaa TIDUR. Idih kalian itu ya, habis makan, langsung mau bobok aja. Dasar pemalas. Habis makan itu, cuci tangan dulu, gosok gigi, baru tidur.

Lanjut... !

Ya benar, didalam ruangan ini, kami juga melakukan aktifitas tidur, kadang-kadang saya sendirian, dan kadang-kadang saya sendirian juga, haha, kasian saya. Ambil saya, ambil saya (mantan pacar di tempat sampah).

 Gak kok, saya gak sendirian, ada teman-teman  yang tidur disini. Ada satu teman, yang usianya parubaya, Nama di rahasiakan, hati-hati denganya, ia suka melakukan aksi gerilya. Waspadalah. Waspadalah. ! haha :D

Tidur di sini enak, jempol deh. Walau pun beralaskan tikar yang sudah berabad-abad, mungkin ada sebelum masehi, haha. Dan ketika disapu, dan tikar itu diangkat, penuh butiran debu di bawahnya, saya terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, saya tenggelam luka dalam... (nyanyi dulu dikit, gini-gini mantan vokalis, nama ben-nya, ben-jol sana, ben-jol sini, wkwkwk) bagus ya, kalian menertawakanku, awas nanti. ! (muka jahat).

Aktifitas selanjutnya, ialah berdiskusi dan mengerjakan tugas kuliah. Sharing banyak hal, dari yang kecil sampai besar. Baca-baca buku, di sini banyak buku.

Kemudian aktifitas saya seperti sekarang ini, menghadap monitor yang gombal. Ya, saya menulis. Bukan sedang menulis. Tapi selesai menulis. Jadi, karena saya sudah selesai, sampai disini dulu ya.

Owh iyaa... kalian pasti bertanya, dimana saya???

Ayo tanya peta? (Dora Explorer).

Pembaca yang budiman, ciyeee  budiman senyum-senyum, GR lu bro.

To the point yo bro, saya berada di gedung sekretariat Remaja Mujahidin. Jl. Daeng Abdul Hadi. Gedung islamic centre lt.2, komplek masjid raya Mujahidin Kalbar.

Namun pada tanggal 06 November 2014, gedung ini digusur. Saya kembali tinggal dimana-mana lagi.


38. Mendadak Menjadi Asdos

Rabu, 1 Oktober 2014

Pukul 5 subuh, saya mengirimkan pesan singkat kepada  Dr. Yusriadi, MA, selaku dosen pembimbing akademik (PA), saya ingin bertemu beliau hari ini, meminta tanda tangan (teken) Kartu Rencana Studi (KRS), format smsnya:

“Assalamualaikum pak, pagi ini bapak ada diruangan MC kah?” beliau membalas “salam. Saya ngajar pukul 7.30. minta teken kah? Di kelas aja”. Saya tersenyum karena mendapat kesempatan untuk bertemu beliau.

Pukul 07.28, saya sudah berada di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Mengirim pesan singkatkembali kepada pak Yus,

“Assalamualaikum pak, bapak berada di ruang mana?” dengan cepat pesan balasan masuk. “G 202” begitulah isi pesanya. Saya segera menuju keruangan tersebut, sambil menyiapkan kertas KRS yang ada 5 lembar, yakni warna putih untuk pegangan pribadi, warna hijau untuk dosen penasehat akademik (PA), warna kuning untuk Jurusan, warna biru untuk sub.bagian akademik, sedangkan yang warna merah muda tidak digunakan lagi, karena sudah IAIN, jadi tidak ada Program Studi (Prodi).

Ruang “G 202” terletak di gedung dakwah, lantai 2. Dengan semangat dan terasa dag dig dug, karena harus dilihat oleh mahasiswa baru. Saya pelan-pelan berjalan menuju pintu kelas. Pak Yus, sedang menyampaikan tugas dan pengarahan lainnya.

Saya menunduk dan minta izin, ketika beliau ada jedah bicara. Saya mohon izin masuk, dan saya merasa kaget, karena beliau yang berjalan menghampiri saya. Sungguh saya merasa malu. Dan beliau membawa saya masuk, berada di depan mahasiswa. “Ada yang kenal sama abang ini” tutur beliau. Saya tersenyum, sambil malu-malu kucing dan agak menunduk. Untuk menguasai suasana kelas, saya beranikan diri untuk memperhatikan para mahasiswa.

Saya kira hanya untuk berdiri saja, kemudian memperkenalkan diri. Ternyata ada lagi yang membuat saya semakin kaget dan membuat lutut semakin gemetaran. Saya dengan hormat oleh pak Yus, dipersilakan duduk di kursi dosen.

Sungguh saya merasa ini hari yang sangat spesial, dan itu hari pertama saya mendapat tempat, bisa jadi seperti asisten dosen. Pak Yus duduk di kursi mahasiswa, sambil menjelaskan tugas dan apa yang harus mereka kerjakan. Namun tidak semua, hanya kata kunci, dan penjelasan lebih lanjut, beliau serahkan kepada saya untuk menjelaskannya.

Beliau memperkenalkanku kepada mahasiswa, nama pena saya “Adi TB”. Saya mengiyakan, lalu tersenyum. Perlahan-lahan ingin menghilangkan grogi. Beliau sambil menanda-tangani KRS semester 3 mlik saya.

Saya melihat kertas jadwal mata kuliah di atas meja dosen, tepat  di hadapan saya. Sekarang mata kuliah Bahasa Indonesia, sedang berlangsung di kelas KPI 1 A, sampai pukul 09.00 WIB. Ternyata saya masih dag-dig-dug. Untuk menghilangkan rasa kaku, saya berinisiatif untuk menulis.

Pak Yus  juga berkata, tidak asal menyuruh saya duduk di depan. Alasannya, karena saya sudah membuat buku. Saya merasa senang, kerena menulis membuat saya bisa berdiri di depan mahasiswa. Ini mimpiku ketika duduk di bangku SMA. Ingin menjadi asisten dosen (asdos), dan bisa menjadi dosen.

Kemudian saya mengambil buku agenda kerja dan pulpen didalam tas ranselku. Saya mencatat point yang akan sampaikan. Melihat waktu yang masih tersisa dua jam lebih, saya merasa tidak mampu, dalam hatiku paling mampu dua puluh menit atau setengah jam mampu bicara di depan mahasiswa baru, di kelas KPI 1 A. Setelah pak Yus selesai meneken KRS, kemudian memberikan tugas membuat tulisan tentang keluarga kepada mahasiswa KPI 1 A.  Setelah itu, beliau mengamanahkan kelas kepada saya.

Sebelum menjelaskan, agar lebih menyatu dengan mahasiswa KPI 1 A, saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Tak kenal, maka kenalan” itulah pepatah yang saya keluarkan, mereka tertawa dan menikmati gaya komedi saya. Perkenalan berjalan lancar.

“Tugas adalah karya, setiap membuat karya akan mendapat nilai”, itulah perkataan beliau yang saya kutip. Maksud pak Yus, ialah membuat tulisan, dari tulisan itu akan menjadi tambahan nilai di mata kuliah Bahasa Indonesia.  Dari pengalaman semester 1 dulu, itulah yang saya sampaikan. Yakni membuat catatan harian. Di tulis ke buku, tidak diketik. Saya memberikan kesempatan kepada mahasiswa di kelas untuk bertanya. Saya senang melihat mereka bertanya, bahkan ada satu mahasiswi bertanya berulang-ulang. Suasana kelas menjadi hidup.

Selain tugas, saya isi juga dengan motivasi dan cara menulis saya pribadi. “Menulis adalah menulis” itulah yang sampaikan untuk membangkitkan mereka untuk menulis.  Menurut saya, menulis ialah langsung menulis. Bukan akan menulis dan ingin menulis. Jadi menulis saja dulu, jangan memikirkan jelek atau bagusnya tulisan kita, karena itu relatif. Kemudian ada proses editing.

Penyakit menulis ialah “Nanti/menunda” jadi jangan katakan nanti, bisa jadi tulisan itu tidak tercipta. Jadi jangan menunda. Jika penat, atau bingung, tulis saja kebingungan itu. Sehingga tulisan kita tetap ada. Bawalah refreshing, supaya banyak mendapat ide. Ide jika tidak langsung ditulis, akan menjadi tidak segar. Jadi, jika dapat ide, dimanapun dan kapanpun, langsung saja ditulis. Jika tidak membawa perlengkapan menulis, catat di handphone.

Seperti pengalaman semester satu. Mahasiswa di mata kuliah bahasa Indonesia, diwajibkan memiliki buku Ejaan Yang Disempurnakan  (EYD) . Karena sangat dibutuhkan, kita tidak lepas dari menulis, didalam EYD ada petunjuk yang sangat penting.

Waktu dua jam telah ku lalui, ternyata sangat asyik. Setelah keluar dari kelas. Saya bertemu pak Yus di gedung Tarbiyah. Beliau bertanya, bagaimana kondisi di kelas. Saya sampaikan, bahwa mereka sangat antusias. Saya mendapat amanah lagi, di lain waktu, jika beliau padat dan tidak bisa masuk, saya di suruh mengajar lagi.

Sungguh hari yang spesial dan baru untukku. Mendadak menjadi asisten dosen (asdos).


39. Menulis Bukan Sekedar Hobi

Menulis bukan hanya sekedar hobi. Menulis sudah menjadi kebutuhan primer atau utama. Kalau tidak menulis, seperti tidak makan atau minum. Sehingga terasa ada suatu rasa ketergantungan terhadap menulis.

Setelah usia 17 tahun ke atas, tidak lagi berbicara hobi ataupun suka-suka, kita harus memikirkan dengan matang, apa yang akan kita lakukan kedepan, harus lebih bermanfaat dan bermakna.

Kalau tidak menulis, bagaikan makan sayur tanpa bumbu, tidak sedap dan tidak asyik. Begitulah yang  saya rasakan sekarang, jika tidak menulis, maka akan terasa ada ruang kosong, yang menggantung, dan tidak terijabah. Jangan buang waktumu dengan hal yang tidak bermakna, gunakanlah waktu dengan sebaik mungkin.

Gunakan waktu luangmu, sebelum datang waktu sempitmu, dan semua hal harus segera terselesaikan. Seakan-akan membuat kepala menjadi pecah, ketika memikirkan semua pekerjaan yang tertunda dan menumpuk, contoh tugas-tugas perkuliahan.

Pesan saya, jalankan dengan nyaman dan semangat. Bertanya kepada Allah SWT, bertanya pada diri sendiri, dan bertanyalah kepada lingkungan sekitar, ketika kita bingung dengan apa yang akan kita lakukan.

Niat, usaha dan semangat harus tetap dijadikan sebagai pondasi. Jangan lupa dengan sekitar, kita sukses tidak sendiri, bohong kalau kita sukses sendiri, pasti ada faktor sekitar yang mendukung.

Tetap semangat dan berpikir positif dengan usaha yang kita lakukan, jangan jadikan sesuatu itu rumit, tapi jadikan sesuatu itu mudah dan bisa kita kerjakan.

“Menunda” akan menghambat suatu proses. Teruslah menulis dan melakukan perubahan. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah nasibnya.

Langsung kerjakan, menunggu apalagi? Ayo menulis. Kamu ialah guru, murid, dan ahli terhadap dirimu sendiri.

Sekali lagi saya dengan tegas mengajak anda untuk menciptakan sesuatu yang terlihat sederhana, tiba waktunya nanti, sesuatu  yang sederhana tadi, akan menjadi luar biasa. Proses lebih penting daripada hasilnya, jika prosesnya bagus, maka hasilnya juga aka bagus.

Maka berproseslah dengan benar, sesuai etika dan jalan yang benar, seperti yang dilakukan para pengubah dunia, dan orang hebat yang berada di alam semesta ini.

Berani menulis, berani berekpresi, berani berkhayal, berani mencipta, berani tampil beda, berani mengatakan yang benar, berani bertindak benar, barani menampilkan yang benar, maka karya kita akan menjadi benar, dan orang lain bisa menerima. Saya yakin itu.


40. Dirimu adalah Jiwaku

Oleh : Sukardi

Kugerakkan Pena bersama Tinta

Tersenyum dalam genggaman mesra

Kuukir kata terpancar  dari  jiwa

Melukiskan sejuta rasa



Tulisan adalah nyawa

Nyawaku tersampaikan melalui kata-kata

Aku bahagia, aku jatuh cinta

Kuterus menulis, cipta karya nyata



Hari-hari yang telah berlalu

Masih utuh dihadapanku

Mengungkap rasa

Merekam kisah



Kutahu kita bisa menyatu

Karena dirimu adalah  jiwaku



Profil Penulis



Karena profil saya sudah diceritakan dari awal sampai akhir tulisan ini. Jadi pada lembar terakhir ini saya kasi alamat saja ya.


E-mail      : sukardi844@gmail.com 
FB            : Imam Sukardi Al-Gani
Twitter     : @Sukardi_KPI
Instagram : @sukarditb
Youtube    : Sukardi-Pohon Rindang
Media       : thetanjungpuratimes.com
                    jurnalistiwa.co.id

Silakan mampir sejenak, lama-lama juga boleh. 

Post a Comment

0 Comments